Labels

Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi. Show all posts

Monday, 30 December 2019

Penelitian Sosial

Proses Berpikir dan Penelitian
Rancangan Penelitian
Menentukan Topik atau Judul Penelitian
Merumuskan Pertanyaan Masalah
Memilih Sampel Penelitian
Data
Studi Kepustakaan
Angket
Observasi
Wawancara
Tahap-Tahap dalam Mempersiapkan Analisis Data
Pengorganisasian Data
Penulisan Laporan Penelitian
Mengomunikasikan Laporan Hasil Penelitian


LOL

Lembaga Sosial

Pengertian Lembaga Sosial

Lembaga sosial adalah sekumpulan norma yang tersusun secara sistematis yang dibentuk dalam berbagai kebutuhan manusia yang bersifat khusus.
Menurut Paul Horton dan Chester L. Hunt lembaga sosial adalah sistem norma-norma sosial dan hubungan-hubungan yang menyatukan nilai-nilai dan prosedur-prosedur tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Paul L. Berger, lembaga sosial adalah suatu prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekan oleh pola tertentu dan dipaksa bergerak melalui jalan yang dianggap sesuai dengan keinginan masyarakat.
Mayor Polak, lembaga sosial adalah suatu kompleks atau sistem peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai yang penting
W. Hamilton, lembaga sosial adalah tata cara kehidupan kelompok, apabila dilanggar akan dijauhi berbagai derajat sanksi.
Robert Maciver dan C. H. Page, lembaga sosial adalah prosedur atau tata cara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.
Leoplod Von Wiese, lembaga sosial adalah jaringan proses hubungan antar manusia dan antar kelompok yang berfungsi memelihara hubungan itu serta pola-polanya sesuai dengan minat dan kepentingan individu kelompoknya
Koentjaraningrat, lembaga sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia.
Soerdjono Soekanto, lembaga sosial adalah himpunan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

Pengikut suatu lembaga sosial menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan peraturan lembaga, jika tidak akan dikenai sanksi.
Untuk memfungsikan sekumpulan norma atau gagasan perilaku, setiap lembaga sosial memiliki asosiasi atau organisasi. Contoh, lembaga adalah perkawinan sedangkan asosiasinya adalah Kantor Urusan Agama (KUA). Asosiasi memiliki anggota dan tujuan jelas. Jadi, lembaga sosial bersifat abstrak sedangkan asosiasi bersifat konkret.


Fungsi Lembaga Sosial

  1. Fungsi manifesr adalah fungsi lembaga sosial yang disadari dan menjadi harapan banyak orang. Contohnya: lembaga ekonomi
  2. Fungsi laten adalah lembaga sosial yang tidak disadari dan bukan menjadi harapan banyak orang. Fungsinya tidak nampak di permukaan dan tidak diharapkan masyarakat, tetapi ada. Contohnya: lembaga politik dijadikan sarana pemupuk kekayaan

Karakteristik Lembaga Sosial

  1. Memiliki simbol sendiri
  2. Memiliki tata tertib
  3. Usianya lebih lama, maksudnya dibandingkan dengan usia orang
  4. Memiliki alat kelengkapan
  5. Memiliki Ideologi
  6. Memiliki kekekalan

Proses Pertumbuhan Lembaga Sosial

Proses sejumlah norma menjadi lembaga sosial disebut pelembagaan atau instituonalized. Memakan waktu lama dan juga melalui internalisasi atau penyerapan. Secara garis besar, timbulnya lembaga sosial dapat diklasifikasikan dalam dua cara:
  1. Tidak terencana: lahir secara bertahap dalam praktik kehidupan masyarakat. Contohnya, dari sistem barter ke mata uang
  2. Secara terencana: melalui perencanaan matang oleh orang atau sekelompok orang.

Fungsi Lembaga Sosial

  1. Fungsi manifest (nyata) adalah fungsi lembaga sosial yang disadari dan menjadi harapan banyak orang. Contohnya: lembaga ekonomi.
  2. Fungsi laten adalah lembaga sosial yang tidak disadari dan bukan menjadi harapan banyak orang. Fungsinya tidak nampak di permukaan dan tidak diharapkan masyarakat, tetap ada. Contoh: lembaga politik dijadikan sarana untuk memupuk kekayaan.

Karakteristik Lembaga Sosial

  1. Memiliki simbol sendiri
  2. Memiliki tata tertib
  3. Usianya lebih lama, maksudnya dibandingkan dengan usia orang
  4. Memiliki alat kelengkapan
  5. Memiliki ideologi
  6. Memiliki kekebalan/daya tahan

Tipe Lembaga Sosial

Menurut John Levis Gillin dan John Philip Gillin. Tipe-tipe lembaga sosial dapat diklasiikasikan sebagai berikut
  1. Berdasarkan sudut perkembangannya, dikenal dua macam pranata sosial
    1. Creative institution,  merupakan pranata sosial yang tidak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Contoh: perkawinan.
    2. Enacted institution, merupakan pranata yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh: pranata pendidikan.
  2. Dari sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat terdapat dua macam pranata
    1. Basic institution, merupakan pranata sosial yan penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Contohnya keluarga, sekolah
    2. Subsidiary institution, merupakan pranat sosial yang berkaitan dengan hal-hal yang dianggap kurang penting. Contohnya: rekreasi, fansclub 
  3. Dari sudut penerimaan masyarakat
    1. Approved atau sanction institution, yaitu pranata sosial yang diterima oleh masyarakat. Misalnya: sekolah, perusahaan
    2. Unsanctioned institution, yaitu pranata sosial yang ditolak masyarakat maupun masyarakat yang tidak mampu memberantasnya. Misalnya: penjahat, mafia.
  4. Dari sudut penyebarannya ada dua
    1. General institutions, pranata sosial yang dikenal oleh sebagian masyarakat dunia. Misalnya: pranata agama
    2. Restructured institutions, pranata sosial yang hanya dikenal oleh masyarakat tertentu saa. Misalnya pranata agama Buddha, pranata agama Islam
  5. Dari sudut fungsinya ada dua yaitu 
    1. Operative institutions, yaitu pranata sosial yang berungsi menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan dari masyaraka yang bersangkutan. Misalnya: pranata industri.
    2. Regulative institutions, yaitu pranata sosial yang bertujuan mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang ada dalam masyarakat. Misalnya: pranata hukum kejaksaan.

Jenis-jenis Lembaga Sosial

  • Lembaga Keluarga 
Keluarga merupakan unit sosial terkecil, terdiri dari ayah, ibu, anak. Memiliki seperangkat peraturan, dan fungsi-fungsi pokok. Setiap anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang jelas. Seperti fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi sosialisasi, fungsi pengawasan sosial, fungsi proteksi dan fungsi pemberi status. Setiap anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang jelas. Dalam kehidupan masyarakat ada tiga macam norma:
  1. Keluarga Inti
  2. Keluarga Besar (extended family), merupakan ikatan keluarga yang merupakan satu keturunan. Contohnya: kakek, cucu dan sebagainya
  3. Keluarga poligamous, terdiri dari beberapa keluarga inti yang dipimpin oleh kepala keluarga.
Proses terbetuknya keluarga 
Tujuan perkawinan
Hikmah perkawinan
Bentuk-bentuk perkawinan
Pola menetap sesudah perkawinan
Susunan keluarga

Friday, 27 December 2019

Realita Masyarakat dalam Imajinasi Sosiologis


Sekilas berita utama di koran atau televisi malam mengungkap keributan dan perselisihan sipil, kekerasan militer di Palestina dan negara Timur Tengah yang masih berbuntut panjang, kegagalan ekonomi serius di Eropa, resesi ekonomi dan bencana alam di beberapa wilayah di Indonesia. Sebagai perbandingan bagi beraneka masyarakat. Negara adidaya terkesan tenang dengan konspirasi elit global dibalik semua itu, bahkan jika menghadapi beberapa tindakan teroris dengan penanggulangan yang sangat tiran. Di bawah seluruh ketenangan ini, jutaan muslim Uyghur menghadapi sebuah genosida etnis dan indoktrinasi budaya. Mereka dipaksa melepaskan identitas keyakinan agamanya dan menjadi seorang atheis dan takluk kepada pemerintahan komunis. Dunia terpecah menjadi dua kubu, pihak yang mendukung re-edukasi yang dibuat oleh pemerintah China dan pengecaman terhadap kejadian tersebut.
Sementara itu, di era milenial dimana industri digital telah merebak, masih banyak orang yang kesulitan mencari dan mempertahankan pekerjaan tetapnya. E-commerce menjadi sebuah alternatif untuk berwirausaha namun pada penerapannya banyak sekali dipenuhi riba. Praktik riba bahkan seringkali muncul dalam bentuk pinjaman online. Banyak siswa dan mahasiswa yang hidup dalam kekhawatiran dan tendensi terhadap standar kompetensi yang harus dipenuhi mereka demi sekolah yang terakreditasi. Di era ini, masih banyak perilaku prasangka terhadap suatu ras, agama, suku dan antar golongan tertentu yang disertai perilaku diskriminatif terutama pada orang Islam. Perang di dunia maya antar warganet sering terjadi yang menimbulkan sikap apatisme dan kecurigaan. Banyak orang justru mengumbar privasi, masalah dan aib pribadinya masing-masing tanpa peduli akibat yang akan dihadapi. Para pegawai pemerintahan yang dituduh semena-mena atas dugaan pencemaran presiden tanpa bukti yang relevan. Individu beberapa kali melihat ini hanya sebagai urusan masalah pribadi yang hanya bisa ditanggung sendirian dan terkadang hampir mengalami kegagalan dalam memahami hikmah dibalik adanya masalah tersebut. Disiplin ilmu sosiologi dapat berkontribusi dalam memahami akar permasalahan dari menelusuri pangkal permasalahan hingga ujungnya agar bisa memecahkan masalah dan menyajikan solusi yang tepat.
Sosiologi adalah studi ilmiah mengenai masyarakat, suatu jalan dimana masyarakat terorganisasi dan beroperasi, dan factor yang berkontribusi demi sebuah stabilitas social dan perubahan. Sosiolog tertarik untuk menganalisis bagaimana orang-orang berkreasi, mempertahankan dan mengubah masyarakat di tempat mereka tinggal. Mereka juga tertarik dalam menganalisis efek beragam fitur masyarakat yang bias dimanfaatkan oleh anggotanya. Sosiologi juga menyajikan pengetahuan berbasis riset mengenai organisasi dan pengoperasian masyarakat yang seringkali mencoba menolong setiap individu untuk menempatkan masalah pribadinya dalam sudut pandang yang tepat dan bias jadi membantu menyikapi masalah mereka secara efektif. Hal ini dilakukan agar mereka dapat memandang masalahnya secara tepat dalam konteks yang lebih besar agar tidak menjadi isu masyarakat.
Keanekaragaman adalah suatu hal yang vital dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Karena keanekaragaman dapat mempengaruhi bukan hanya tentang siapa mereka namun apa yang membuat mereka menjadi mereka. Di Indonesia, kesempatan individu untuk mengecap pengalaman yang bermanfaat sangat mempengaruhi bagaimana hidup mereka. Namun kesempatan untuk mengalami pengalaman hidup yang sejahtera tidak tersebar merata. Hal ini bervariasi tergantung apakah mereka kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, dari mana suku mereka, apa budaya mereka, apa agama mereka dsb. Kehidupan orang-orang juga dipengaruhi oleh cara mereka menyikapi kejadian di antaranya termasuk apakah mereka masih muda atau sudah tua, sehat jasmani atau rohani atau memiliki disabilitas, lajang atau sudah berkeluarga.
Riset penelitian sosiologi juga menghasilkan pengetahuan yang luar biasa mengenai strata, gender dan ketidaksamaan perlakuan antar SARA, seperti banyak factor yang membentuk pengalaman orang-orang di masyarakat. Pengetahuan ini tidak hanya berkontribusi untuk kehidupan yang lebih baik, namun dapat memahami kondisi masyarakat yang berbahaya yang harus diubah dan ditanggulangi, pengetahuan sosiologi juga mengarahkan jalan dalam membuat keputusan demi perubahan yang lebih baik. Riset penelitian sosiologi dalam menemukan dan memberikan nasihat seringkali terbukti berguna bukan hanya pada politikus, pembuat kebijakan, jurnalis, intelektual dan pekerja social dan ahli reformasi, namun kepada orang-orang yang memperhatikan masalah social yang terjadi secara kontemporer yang sering kali tak tuntas.
Sosiologi dibedakan dalam jalan-jalan yang spesifik dibandingkan ilmu social lainnya. Disiplin psikologi misalnya, pada dasarnya berfokus  pada fungsi batin di dalam manusia dan dampaknya pada perilaku mereka. Secara kontras, sosiolog secara prinsip memperhatikan dampaknya pada tanggapan kelompok social dan kondisi social sebagai reaksi yang terlintas dalam pikiran dan perilaku orang-orang. Sosiolog juga menggali pemahaman tentang bagaimana dan mengapa orang-orang mempengaruhi dan dipengaruhi anggota kelompok mereka dalam keseharian interaksi social dengan lainnya, dan cakupan lingkungan social yang lebih luas yakni bagaimana mereka berfungsi dalam kondisi politik dan ekonomi.
Psikolog dan sosiolog seringkali tumpeng tindih dalam ketertarikannya melihat  dalam masalah disiplin akademik dan saling berbagi pandangan. Contohnya beberapa sosiolog dan psikolog berbagi ketertarikan dalam wilayah spesialisasi mengenai psikologi social, yang termasuk dalam perubahan formasi perilaku sebagai area penelitian, perilaku orang-orang dalam kelompok kecil, dan proses sosialisasi yang melalui bagaimana orang-orang belajar untuk berpartisipasi dalam kehidupan social. Namun umumnya sangat dibenarkan untuk mengatakan bahwa sosiologi lebih emosional daripada psikologi untuk tertarik melihat gambaran besar, yang berarti melihat bagaimana organisasi dan pengoperasian masyarakat yang berpengaruh pada anggotanya, sebagaimana anggota berpikir dan merefleksikan tindakannya terhadap masyarakat.
Sosiolog juga memperdagangkan gagasan dengan kolega ilmu social lainnya yakni dengan ilmu politik dan ekonomi. Sosiolog meskipun begitu, memandang system ekonomi dan politik sebagai sebuah institusi atau lembaga yang berpusat untuk menggerakkan masyarakat. Sehingga terjadi kesepakatan yang baik di antara sosiologi dan antropologi dalam memperhatikan perhatiannya terhadap konsep penelitian yang saling mendukung. Meskipun ada banyak pengecualian, antropolog memiliki penekanan historis pada studi budaya, masyarakat terbelakang di mana sosiologi menekankan pada analisis organisasi dan pengoperasian masyarakat terindustrialisasi.
Sehingga kita mendefinsikan sosiologi sebagai studi ilmiah tentang masyarakat, jalan dimana masyarakat terorganisir dan berporerasi, dan factor yang berkontribusi terhadap stabilitas social dan perubahan. Bab ini mengalamatkan pada pertanyaan berikut
  • 1.      Apa itu “imajinasi sosiologis” dan bagaimana sosiologi berkontribusi di dalamnya?
  • 2.      Apa sudut pandang yang dapat memebentuk rancang bangun ilmu sosiologi?
  • 3.      Apa kegunaan konsep yang membentuk sudut pandang sosiologi dalam masyarakat?


Saturday, 30 September 2017

Perubahan Sosial: Pendahuluan

Ketika sosiolog membicarakan perubahan sosial, mereka mengacu pada variasi atau perubahan signifikan dalam struktur sosial dan budaya dari waktu ke waktu. Perubahan sosial dapat terjadi pada berbagai tingkat dan dalam berbagai tingkat intensitas. 

Misalnya, reformasi sosial adalah penyesuaian isi dari pola budaya perilaku atau sistem normatif, penyesuaian yang pada dasarnya tidak mengubah budaya sosial. Perubahan dalam undang-undang upah minimum A.S. tidak mengubah struktur masyarakat, Korporasi tetap mengendalikan produksi barang dan jasa, dan undang-undang federal masih dibuat oleh kongres. Di tangan lain, Revolusi sosial, adalah pergolakan radikal dan fundamental yang terjadi dalam struktur sosial yang ada saat itu. Revolusi terkadang melibatkan pertarungan berdarah antara pejuang organisasi, namun tidak selalu begitu. Revolusi industri, contohnya, secara mendasar adalah perubahan proses produksi, kekuatan dalam mengendalikan pekerja yang berada dalam proses dan bagaimana mereka mengubah instutisi peran dan status (Evans, 1999; Gutman, 1977; Thompson, 1966) Tapi hal ini tidak terjadi dalam "medan perang" secara jelas dan teroganisir. Dalam "medan perang" yang terjadi adalah adanya banyak toko dalam pabrik dan konflik antara pekerja dan pemilik (walaupun bisa jadi, perjuangan dalam gerakan pekerja yang muncul bertahun-tahun saat itu sangat berdarah).

Hal ini juga berguna dalam mempertimbangkan bahwa sebagian perubahan sosial bersifat latent. Contohnya Baby Boom yang terjadi di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II adalah perubahan yang tidak disadari sampai hal itu terjadi. Hal ini menimbulkan perubahan demografis yang memiliki beberapa konsekuensi. Sekolah menjadi sangat ramai dimana kelompok usia tertentu masuk ke dalam sistem pendidikan, dan  situasi tersebut mendorong sebuah pertarungan nasional untuk membangun lebih banyak sekolah dan memperkerjakan banyak guru. Kompetisi mencari pekerjaan menjadi sangat sengit karena "baby boomers" masuk ke pasar kerja, dan pada tahun 1980, pengangguran menjadi kemungkinan paling besar di antara sekian banyak orang. "Baby boomers" menjadi kekuatan politik pada akhir 1960 dan awal 1970 di mana mereka berpartisipasi dalam beberapa gerakan sosial. Salah satunya gerakan anti perang yang tergesa-gesa muncul pada akhir perang Vietnam. Analisis kritis mengenai perang, angkatan bersenjata dan proses politik yang diungkapkan oleh gerakan anti perang dengan segera mengubah usia anggota pemilu dari usia 21 tahun menjadi 18 tahun. Pertumbuhan gerakan feminis membuat wanita mendapatkan akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih baik. Sehingga, sebagai timbal balik, kesempatan baru terhadap wanita memiliki dampak yang tidak disengaja dapat menurunkan angka kelahiran di Amerika Serikat. Saat baby boomers pensiun pada awal abad ini, mereka akan menjatuhkan permintaan yang besar terhadap sistem sekuritas sosial. Sehingga angkatan kerja menjadi semakin sedikit dan tidak dapat mendukung permintaan tanpa berkinerja besar dalam masyarakat umum.

Kesimpulannya perubahan sosial bukan suatu hal yang alamiah dan netral. Hal ini adalah proses politis yang melibatkan perjuangan terorganisir antara yang kuat, segmen yang manifest di masyarakat, dan disisi lain laten.. Orang dengan kekuasaan dan hak istimewa biasanya berada di posisi yang lebih baik dalam menetapkan arah perubahan  dalam mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan hak istimewa mereka

Ketimpangan Sosial Hubungannya dengan Stratifikasi Masyarakat

Di masyarakat, tidak sedikit orang yang diperlakukan secara inferior dalam hal kelas sosial, ras, etnis atau gender dan mendapatkan banyak perlakuan diskriminasi dari orang lain. Berdasarkan perspektif sosiologi, ketimpangan sosial datangnya bukan karena kecelakaan atau tersebar acak tapi sebagai fitur yang terintegrasi berdasarkan bagaimana manusia terorganisasi. Di Amerika, sistem ketimpangan sosial terkonstruksi dalam beberapa aspek, seperti pendapatan, gender, warna kulit, orientasi seksual, usia, dan bentuk fisik. Sistem ini mengatur akses manusia ke dalam sumber daya penting, dan pola kesempatan yang menguntungkan seseorang dan merugikan orang lain, tergantung dari karakteristik status sosial. Sistem ketimpangan sosial ini telah mencapai konsekuensi yang lebih jauh terhadap biografi hidup setiap anggota masyarakat.

Sosiolog telah tertarik mempelajari dan memahami sistem ketimpangan sosial. Karl Marx (1813-1883) menggambarkan perhatian kepada proses memproduksi dan menjaga ketimpangan sosial dan kemiskinan dari masyarakat kapital, perhatian yang masih relevan saat ini. Sosiolog Jerman Max Weber (1864-1920) juga berpengaruh dalam studi ketimpangan sosial. Dia mendukung sosiolog untuk menganalisis masyarakat dalam artian stratifikasi sosial, cara di mana orang-orang menempati posisi sosial yang berbeda dari tingkatan tertinggi sampai yang terendah.

Weber mengemukakan bahwa dalam stratifikasi sosial masyarakat tertentu kemungkinan besar bersifat multidimensional. Ketiga dimensi stratifikasi yang paling penting yang dinyatakan Weber adalah kelas (kepemilikan properti dan kemampuan pemasaran untuk menghasilkan pendapatan), status (prestise), dan kekuasaan (kemampuan untuk mendominasi atau mempengaruhi orang lain). Dalam pandangan Weber, kodrat dan pentingnya tiga dimensi ini dapat dibedakan dari masyarakat ke masyarakat serta dalam masyarakat tertentu dari waktu ke waktu. Weber menyatakan bahwa stratifikasi sosial adalah  multidimensi yang memperngaruhi pendekatan tehadap analisis sistem ketimpangan sosial.

Ada enam sistem ketimpangan sosial dalam hal ekonomi, ras, gender, usia, orientasi seksual, ketahanan tubuh. Sistem ketimpangan ini adalah kreasi manusia atau konstruksi sosial yang condong membedakan antara masyarakat dengan masyarakat lain dan dalam periode sejarah yang berbeda. Contohnya, peneliti telah menemukan bahwa orang yang berada di masyarakat timur memiliki cara yang berbeda dalam melihat gender dan hubungan gender daripada yang biasanya ada di Amerika Serikat, dan dalam masyarakat lain ada yang menganggap bahwa homoseksual adalah normal (Murray,2000;Nanda,1999).

Sebelum melihat ke enam sistem ketimpangan sosial, kita ingin dapat mengatur mereka ke dalam konteks yang lebih besar. Bukan hanya karena ketimpangan sosial adalah kreasi manusia, namun karena sistem ini juga terorganisasi dalam perbedaan kekuatan. Tidak umum namun ada, bila satu segmen masyarakat memiliki kemampuan untuk menentukan standard apakah sesuatu halnya dapat dikatakan “baik” atau “normal” dalam sistem ketimpangan sosial, serta kekuatan untuk meminggirkan (marginalize( atau memaksakan kerugian kepada orang yang dipandang “buruk” atau “abnormal”
Contohnya, pada zaman dahulu, orang keturunan Eropa malakukan perang dengan masyarakat adat yang sekarang kita sebut orang Amerika Utara (Indian). Penjajah Eropa dan angkatan militernya mengambil alih kawasan tanah masyarakat adat dan dipaksa tinggal dalam kemiskinan. Penakluk meluruskan tindakannya dengan ideologi yang dipegang penjajah Eropa dimana secara ras dan kultural lebih superior daripada masyarakat asli Amerika Utara. Terakhir mereka diperlakukan seperti manusia yang tak beradab (savages). Dalam hari ini masyarakat asli Amerika Utara tersisa sebagai manusia yang yerpinggirkan dan subjek dari stereotipe negatif yng dapat ditelusuri kembali ideologinya seiring dengan kolonialisasi Eropa.


Sistem ketimpangan sosial sering memicu konflik. Beberapa kelompok berusaha mengungkapkan perubahan sosial yang dapat mengakhiri mistreatment sementara kelompok lain yang memiliki hak istimewa dalam sistem berjuang untuk mempertahankan status quo. Biografi hidup seseorang dipengaruhi bukan dari posisi mereka dalam berbagai sistem ketimpangan namun juga dari keberadaan dan gerakan untuk perubahan sosial. Jelas sekali, jika seseorang yang berada posisi yang tidak menguntungkan berada di salah satu sistem ketimpangan sosial, salah satu untuk menanggulangi sistem adalah untuk terlibat atau memberikan dukungan untuk membuat perubahan.

Diterjemahkan dari buku Sociology, Kenneth J. Neubeck dan Davita SIlfen Glasberg 

Monday, 6 July 2015

Perubahan Sosial

Pengertian Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat berarti adanya ketidasesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan. sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan baru. Perubahan sosial memengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, serta perilaku individu dan kelompok.

Kecenderungan suatu masyarakat untuk berubah karena:

  1. Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada
  2. Timbulnya keinginan untuk mengadakan perbaikan
  3. Kesadaran atas kekurangan kebudayaannya sendiri
  4. Adanya usaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru
  5. Banyaknya kesulitan yang dihadapi yang memungkinkan manusia untuk dapat mengatasinya
  6. Kebutuhan yang semakin kompleks
  7. Sikap terbuka masyarakat
  8. Sistem pendidikan yang memberikan nilai-nilai tertentu untuk meraih masa depan yang cerah.
Tapi masyarakat pun memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kebudayaannya, karena:
  1. Adanya unsur yang mempunyai fungsi tertentu dan sudah diterima msyarakat secara luas
  2. Adanya unsur yang diperoleh dari sosialisasi sejak kecil
  3. Adanya unsur yang menyangkut agama yang dianut masyarakat
  4. Unsur yang menyangkut ideologi dan filsafat bangsa
Karakteristik Perubahan Sosial
  1. Tak ada masyarakat yang berhenti berkembang
  2. Perubahan pada lembaga kemasyarakatan tertentu diikuti perubahan lembaga sosial yang lain
  3. Terjadi disorganisasi yang bersifat sementara karena berada dalam proses penyesuaian diri
  4. Perubahan tak hanya kepada kebendaan atau spiritual saja karena kedua bidang tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang kuat.


Teori Perubahan Sosial
Teori Utama Perubahan Sosial

  1. Teori Siklus, teori yang melihat perubahan sebagai sesuatu yang berulang-ulang. Peradaban besar melalui proses kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan dan kematian.
  2. Teori perkembangan/linear, teori ini percaya bahwa perubahan dapat diarahkan ke suatu titik tujuan tertentu, yaitu perubahan dari masyarakat tradisional ke modern. Masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke organik. menurut Karl Marx masyarakat feodal akan berubah menjadi masyarakat kapitalis

Teori Modernisasi mengenai perubahan sosial

  1. Teori modernisasi, perubahan negara terbelakang mengikuti jalan yang sama dengan industri di Barat.
  2. Teori ketergantungan, ketergantungan secara ekonomi negara-negara dunia ketiga terhadap negara-negara industri. Menimbulkan kemiskinan di dunia ketiga.
  3. Teori sistem dunia., perekonomian kapitalis dunia tersusun atas tig jenjang yaitu negara inti, negara semi periferi dan negara periferi. Negara inti adalah di Eropa Barat, negara semi periferi adalah Eropa Selatan, negara periferi adalah negara Asia dan Afrika.

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
  1. Perubahan Lambat (Evolusi)
  2. Perubahan Cepat (Revolusi)
  3. Perubahan Kecil
  4. Perubahan Besar
  5. Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan
  6. Perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan
  7. Perubahan Struktural
  8. Perubahan Proses


Faktor Pendorong Perubahan Sosial

  • Faktor Internal
    • Bertambah atau berkurangnya penduduk
    • Penemuan baru
    • Pertentangan atau konflik dalam masyarakat
    • Terjadinya pemberontakan atau revolusi
  • Faktor Eksternal
    • Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, terjadi bencana  alam, gempa, gunung meletus
    • Peperangan
    • Pengaruh kebudayaan masyarakat lain secara
      • Penetration Pasifique
      • Penetration Violence


Faktor Penghambat Sosial

  1. Kurangnya berhubungan dengan masyarakat lain
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat
  3. Sikap masyarakat yang mengagungkan masa lampau dan cenderung konservatif
  4. Adanya kepentingan yang tertanam kuat (vested interest)
  5. Rasa takut terjadinya kegoyahan kebudayaan
  6. Prasangka terhadap hal baru atau asing
  7. Hambatan yang bersifat ideologis
  8. Kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah


Akibat Perubahan Sosial

  • Modernisasi
  • Globalisasi


Saturday, 4 July 2015

Masyarakat Multikultural

Masyarakat Multikultural dan Multikulturalisme
Secara sederhana masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas beragam kelompok sosial dengan sistem norma dan kebudayaan yang berbeda-beda. Masyarakat multikultural merupakan bentuk dari masyarakat modern yang terdiri dari berbagai golongan, suku, etnis (suku bangsa), ras, agama, dan budaya. Mereka hidup bersama dalam suatu wilayah lokal maupun nasional.

Keanekaragaman dalam masyarakat multikultural memiliki beberapa karakteristik. menurut Pierre L. Van den Berg karakteristik keberagaman tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Terjadinya segmentasi atau pembagian ke dalam kelompok-kelompok yang sering kali memiliki sub kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
  2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-agi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer (tidak saling melengkapi).
  3. Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan) di antara anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.
  4. Secara relatif, seringkali terjadi konflik antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
  5. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi.
  6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.
Multikuturalisme tidak hanya bermakna kergaman tapi bermakna kesederajatan antar perbedaan yang ada. Tak ada norma dan budaya yang lebih tinggi daripada yang lain. Jadi, masyarakat majemuk lebih menitikberatkan pada keanekaragaman suku dan budaya sementara masyarakat multikultural merujuk pada kesetaraan, kesederajatan kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat.

Multikutural menuntut masyrakat untuk hidup penuh toleransi, saling pengertian antar budaya dan antar bangsa dalam membina suatu dunia baru. Dengan demikian, multikulturalisme dapat menyumbangkan rasa cinta terhadao sesama dan sebagai alat untuk membina dunia yang aman dan sejahtera.

Faktor yang Memengaruhi Perlunya Masyarakat Multikultural
Menurut Tilaar, sekurang-kurangnya ada tiga hal yang mendorong berkembang pesatnya pemikiran multikulturalisme, yaitu:

  1. HAM
  2. Globalisasi
  3. Demokratisasi
Ketiga hal itu diibaratkan sebagai segitiga sama sisi yang tidak dapat dipisah-pisahkan. HAM merujuk pada pengakuan setiap manusia it sama. Masyarakat dan negara pun harus menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara.
Namun dalam kenyataannya, idealisme masyarakat multikultural menghadai berbagai hambatan. Berikut ini beberapa hambatan tersebut:
  1. Menganggap budaya sendiri paling baik. Pengakuan terhadap budaya sendiri yang berlebihan dan kecintaan pada diri sendiri atau kelompok disebut narsisme budaya.
  2. Pertentangan budaya barat dan timur.
  3. Pluralisme dianggap sebagai sesuatu yang eksotis. Ini banyak dianut oleh pengamat barat. Mereka memandang budaya lain memiliki sifat eksotis, dan menarik perhatian bukan sebagai budaya yang memiliki kekhasan yang berbeda dengan budayanya.
  4. Pandangan yang paternalistik. Hingga saat ini banyak memandang status perempuan sebagai sesuatu yang minor dan disubordinasi dari peran laki-laki.
  5. Mencari apa yang disebut indigenous culture, yaitu mencari sesuatu yang dianggap asli. Seperti penanaman gedung-gedung memakai nama dalam bahasa sansekaerta. Kerjasama internasional tidak mengharamkan penggunaan unsur budaya lain.
  6. Pandangan negatif penduduk asli terhadap orang asing yang dapat berbicara mengenai kebudayaan penduduk asli.

Realitas Masyarakat Indonesia
Pengelompokan Masyarakat Indonesia
Menurut Hildred Geertz bahwa Indonesia memiliki 300 suku bangsa yang berbeda-beda. Menurut STA memperkirakan ada 200-250 suku bangsa, menurut Skinere ada lebih dari 35 suku bangsa. Selain suku bangsa masyarakat juga terdiri atas bahasa dan agama yang berbeda-beda, juga kelas sosial juga banyaknya pendatang.
Ada beberapa faktor yang mendorong keberagaman masyarakat Indonesia

  1. Keadaan geografis Indonesia. Nenek moyang Indonesia berasal dari Yunan, suatu wilayah Tiongkok bagian selatan, menyebar mendiami 13.000 pulau, dalam keadaan geografis yang terpisah-pisah.
  2. Pengaruh kebudayaan asing, terletak di posisi silang. Memiliki daya tarik untuk singgah dan menetap di Indonesia, menyebarkan agama dan berinteraksi dengan penduduk lokal terjadila amalgamasi dan asimilasi kebudayaan
  3. Iklim yang berbeda. Membentuk pola-pola perilaku dan sistem mata pencaharian yang berbeda-beda.
  4. Pembangunan. Kemajuan dan industrialisasi menghasilkan kelas-kelas sosial yang didasarkan pada aspek-aspek ekonomi.
Realitas sosial dan budaya di Indonesia menghasilkan karakter-karakter masyarakat yang berbeda-beda. Ada masyarakat yang terbuka. Berdasarkan kondisi tersebut, kita dapat membedakan masyarakat Indonesia dalam beberapa kategori
  • Ditinjau dari sikap perilaku terhadap masyarakat lain, masyarakat Indonesia terdiri dari masyarakat eksklusif dan masyarakat inklusif
    • Masyarakat eksklusif, masyarakat yang takut terhadap pengaruh budaya lain yang mereka anggap dapat merusak budayanya, terutama hal kepercayaan, agama dan perkawinan.
    • Masyarakat inklusif, cenderung mudah berhubungan dengan masyarakat lain.
  • Ditinjau dari sikapnya terhadap perubahan, masyarakat terdiri dari masyarakat konservatif dan modern
    • Masyarakat konservatif, masyarakat yang tak suka perubahan karena menganggap kebudayaannya telah sempurna.
    • Masyarakat modern, masyarakat yang cenderung menyukai perubahan sesuai kebutuhan yang semakin kompleks dan berkembang.
  • Ditinjau dari lokalitas, masyarakat Indonesia dibagi atas masyarakat desa dan kota
    • Masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat yang tradisional/primitif. Pandangan ini kurang tepat karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tingal di teritori tertentu yang biasanya disebut masyarakat setempat (community). Ciri-ciri masyarakat desa
      • Anggota komunitas kecil
      • Hubungan individu kekeluargaan
      • Sistim kepemimpinan informal
      • Ketergantungan pada alam tinggi
      • Religius magis
      • Rasa solidaritas dan gotong royong tinggi
      • Kontrol sosial antar warga kuat
      • Hubungan pemimpin warga bersifat informal
      • Pembagian kerja tak tegas dan belum ada spesialisasi
      • Patuh terhadap nilai dan norma di desanya
      • Tingkat mobilitas sosial rendah
    • Masyarakat kota, umumnya memiliki ciri-ciri
      • Pola pikir rasional
      • Bersifat individualis
      • Masyarakat cenderung sekuler
      • Mata pencaharian bergama
      • Sangat menghargai spesialisasi yang langka berdasarkan manfaat
      • Menjadikan kita sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik, pendidikan
  • Ditinjau dari mata pencaharian penduduknya, masyarakat Indonesia terdiri dari pertanian, nelayan dan masyarakat industri
    • Masyarakat pertanian, sebagian besar petani. Masyarakat pertanian dapat dikategorikan dalam fase-fase dari
      • Masyarakat meramu dan mengumpulkan makanan
      • Masyarakat ladang berpindah
      • Masyarakat bercocok tanam menetap
    • Masyarakat nelayan, umumnya hanya memiliki alat-alat sederhana.
    • Masyarakat Industri, spesialisasi pekerjaan dihargai dan semakin dihormati, semakin spesialisasi smakin masyarakat menghargainya, Tingkat persaingan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan dan tinggi pula mobilitasnya.
  • Ditinjau dari segi perubahan, terdiri dari masyarakat tradisional dan modern.
    • Masyarakat tradisional, memegang teguh tradisi leluhurnya berupa nilai hidup, norma, harapan, cita-cita dsb. Cenderung tertutup, dan curiga pada unsur asing, tergantung pada alam, alam merupakan alat vital, seperti dalam "Seserahan", pada perkawinan berupa pakaian, perhiasan dan hasil bumi pada keluarga wanita
    • Masyarakat modern, masyarakay ini telah mengalami transformasi pengetahuan dan teknologi, juga merasakan tingkat perekonomian yang tinggi. Namun pengertian modern sangat luas, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
      • Bersikap terbuka terhadap hal-hal baru
      • Menerima perubahan secara kritis
      • Peka terhadap masalah lingkungan
      • Berorientasi masa kini dan yang akan datang
      • Menggunakan perencanaan dalam tindakan
      • Yakin pada manfaat IPTEK
      • Menghormati HAM
      • Tidak tergantung pada nasib
      • Senantiasa memiliki indormasi lengkap tentang pendiriannya
      • Yakin pada potensinya dan dikembangkan.
Dari kenyataan tersebut, kita katakan bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah masyarakat yang nasionalnya mempersatuikan beraneka ragam masyarakat dan kebudayaan dalam sebuah bangsa dalam warga negara.

Dinamika Masyarakat Indonesia
Sejara perkembangan masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa potensi konflik antar berbagai kelompok masyarakat di Indonesia cukuplah besar, Bahkan di berbagai daerah, potensi itu muncul dalam berbagai bentuk kekerasan yang berakibat pada kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia. Konflik tersebut karena harga diri dari kebanggan kelompok terusik; perbedaan pendirian atau sikap; perbedaan kebudayaan, setiap etnis, benturan kepentingan (politik, ekonomi, kekuasaan) perubahan yang terjadi terlalu cepat sehingga keseimbangan terganggu.


Mewujudkan Masyarakat Multikultural
Menurut Bales, ada tiga tahap pemecahan masalah, yaitu:
  1. Tahap Orientasi. Dalam tahap ini anggota kelompok bertanya dan saling memberi informasi hingga terhindar pemahaman yang keliru.
  2. Tahap Evaluasi. Tiap anggota kelompok membahas informasi dan saling bertukar pendapat hingga terjadi keterbukaan dan muncul alternatif baru untuk memecahkan masalah.
  3. Tahap Kontrol. Para anggota kelompok menyarankan untuk mencari jalan keluar untuk mencapai suatu kesimpulan akhir.


Manfaat Masyarakat Multikultural

  1. Melalui hubungan harmonis, antar masyarakat dapat digali kearifan budaya
  2. Munculnya penghargaan terhadap budaya lain hingga memunculkan toleransi
  3. Merupakan benteng pertahanan terhadap budaya kapital yang cenderung melumpuhkan  budaya yang beragam. Paham kapitalisme cenderung diskriminatif
  4. Multikulturalisme merupakan alat untuk membina dunia yang aman dan sejahtera. Bangsa-bangsa duduk bersama untuk saling bantu pemecahan masalah.
  5. Multikulturalisme mengajarkan suatu pandangan bahwa kebenaran itu tidak dimonopoli oleh satu orang atau kelompok saja tapi kebenaran itu ada di mana-mana. Dengan saling mengenal dan menghargai budaya orang lain, tercipta kehidupan yang penuh toleransi untuk terciptanya masyarakat yang aman dan sejahtera


Konsekuensi Masyarakat Multikultural
  • Interseksi
Interseksi adalah titik perporotongan atau pertemuan atau persilangan antara dua garis atau dua ara, interseksi merupakan persialngan atau pertemuan keanggotaan kelompok sosial dari berbagai sektor baik berupa suku, agama, jenis kelamin, kelas sosial dan lain-lain dalam masyarakat majemuk
  • Konsolidasi
Konsolidasi merupakan penguatan atau peneguhan anggota individu atau beberapa kelompok yang berbeda dalam suatu kelompok sosial melalui tumpang tindih keanggotaan. Tumpang tindih terjadi misalnya antar suku dan agama, suku dan pekerjaan, suku dengan kelas sosial sebagai identitas suku bangsa tertentu dengan pekerjaan tertentu.
Struktur sosial yang terkonsolidasi berfungsi menghambat terjadinya penguatan identitas dalam batas-batas tertentu yang akan mempertajam prasangka antara ras, suku, agama yang berbeda. Prasanga semakin tajam dengan perbedaan peluang dalam kesempatan ekonomi dan politik
  • Mutual Akulturasi
Mutual akulturasi didahului dengan interseksi yang berjalan terus menerus hingga timbul rasa menyukai secara sadar dan tidak hingga individu masyaraat tersebut mengikuti dan menggunakan perwujudan kebudayaan lain. Contohnya: model pakaian, gaya bangunan, pergaulan sehari-hari, dan sebagainya.
  • Primordialisme
Adalah suatu pandangan atau paham yang memegang teguh hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat, kepercayaan dibawa sejak kecil baik mengenal tradisi, adat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada dalam lingkungan pertama-nya sehingga membentuk sikap tertentu.
Faktor-faktor penyebab primordialisme:
  1. Ada sesuatu yang dianggap istimewa pada ras, suku bangsa, agama dan daerah kelahirannya
  2. Sikap ingin mempertahankan keutuhan kelompok atau komunitas dari ancaman luar
  3. Adanya nilai-nilai yang dijunjun tinggi karena berkaitan dengan keyakinan. Misalnya: nilai keagamaan, falsafah hidup dan lain-lain.
  • Stereotipe etnis
manusia baik secara individu maupun kelompok sosialnya memiliki kecenderungan untuk mengidentifikasikan dirinya dengan suku bangsa tertentu. Hal ini menimbulkan perasaan subjektif di mana gambaran itu terkadang lebih bersifat ke arah negatif daripada positif.
  • Politik aliran (sectarian)
Konsep sektarian ini pertama kali dikemukakan Clifford Geertz (1964) dalam kajiannya di Mojokauto, Pare, Jawa Timur ada tiga golongan masyarakat yaitu priyayi, santri dan abangan,
Dari pemikiran Geertz ini, Herbert Feith (1980) kemudian menjabarkan ada lima politik aliran politik di Indonesia yaitu:
  1. Pemikiran politik yang dipengaruhi campuran hindu, tradisionalisme jawa, Islam serta barat ke dalam ideologi komunisme
  2. nasionalisme radikal
  3. sosialisme
  4. Islam
  5. Tradisionalisme jawa
  • Pluralisme dan nasionalisme
Proses awal perkembangan nasionalisme di Indonesia dilihat dengan munculnya gerakan emansipasi wanita, Kongres pemuda pertama, Budi Utomo, Gerakan Jawa Muda, gerakan pribumi, kongres kebudayaan dan sumpah pemuda

Kelompok Sosial

Pengertian Kelompok Sosial

Kita mungkin tak sadar sejak lahir sampai sekarang kita menjadi anggota bermacam-macam kelompok. Terlihat bahwa kelompok sosial merupakan suatu gejala yang sangat penting dalam kehidupan kita, karena sebagian besar aktivitas berlangsung di dalamnya.
Dapat dikatakan bahwa sejak dilahirkan manusia mempunyai dua hasrat atau kepentingan pokok bagi kehidupannya, yaitu:

  • Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya di sekelilingnya (gregariusness)
  • Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alamnya
  • Keterikatan dan ketergantungan antar manusia dengan lainnya mendorong manusia untuk membentuk kelompok-kelompok masyarakat yang disebut kelompok sosial/sociak group

Pengertian Kelompok Sosial

  1. Paul B. Horton. Kelompok sosial berarti setiap kumpulan manusia secara fisik contohnya sekelompok, orang yang menunggu bus kota.
  2. Rolland B. Warren. Kelompok sosial meliputi jumlah orang yang berinteraksi dan memiliki pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya secara keseluruhan.
  3. Willy Huky. Kelompok sosial merupakan satu unit ang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi atau berkomunikasi.
  4. Mayor Polak. Kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling berhubungan dalam sebuah struktur.
  5. Robert K. Merton. Kelompok merupakan sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang tetap mapan.
  6. Mac Iver dan Charles H. Page. Kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan antarmanusia dalam himpunan ini bersifat saling memengaruhi dan dengan kesadaran untuk saling menolong.
Jadi kelompok sosial adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.


Syarat dan Ciri Kelompok Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, himpunan manusai baru dapat dikatakan sebagai kelompok sosial apabila memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan
  • Adanya hubungan timbal balik antar anggota atau yang lainnya.
  • Adanya faktor peringkat yang dimiliki bersama di antara mereka (kepentingan yang sama, tujuan sama, ideologi dan politik yang sama dan lain-lain)
  • Memilik struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama
  • Bersistem dan berproses
Robert K. Meton menyebutkan tiga kriteria suatu kelompok, yaitu:
  1. Memilik pola interaksi
  2. Pihak yang berinteraksi mendefiniskan dirinya sebagai anggota kelompok
  3. Pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh anggota orang lain sebagai anggota kelompok.
Catatan: ada kelompok sosial yang tidak teratur yaitu kerumunan dan publik. Kerumunan bila ada hal yang menarik perhatian bersama contonya, antrean karcis. Sedangkan publik juga memiliki amkna yang sama namun tidak berkumpul di satu tempat, interaksi tak langsung seperti pemirsa televisi yang menyaksikan kampanye presiden melalui televisi.

Tipe/Bentuk Kelompok Sosial

  • Klasifikasi Emile Durkheim
Durkheim membagi kelompok sosial menjadi dua tipe yaitu kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja. Yang diutamakan adalah persamaan perilaku dan sikap. Seluruh kegiatan warga masyarakat diikat oleh apa yang disebut "kesadaran kolektif", yaitu suatu kesadaran bersama yang mencakup seluruh kepercayaan dan perasaan kelompok, berada di luar warga dan bersifat memaksa. Hukum yang dominan adalah hukum pidana untuk mengembalikan kondisi tidak seimbang akibat perilaku menyimpang. Sanksi terhadap pelanggar bersifa represif (hukum pidana).
Solidaritas organik merupakan solidaritas yang terdapat dalam masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja, saling ketergantungan antar watga masyarakat tinggi. Ikatan bersama yang mempersatukan masyarakat ukan lagi kesadaran kolektif, melainkan kesepakatan yang terjalin di antara berbagai profesi. Hukum yang menonjol adalah hukum perdata. Sanksi terhadap pelanggaran bersifat restitutif (si pelanggar harus membayar ganti rugi kepada yang dirugikan untuk mengembalikan keseimbangan yang telah dilanggar).
  • Klasifikasi Ferdinant Tonnies
Kelompok dalam masyarakat dibedakan dalam gemeinschaft dan gesselscaft.
Gemeinscahft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi dan eksklusif. Contohnya ikatan agama, ikatan perkawinan, rumah tangga, bahasa, adat dan sebagainya.
Gesselscaft merupakan kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang kebetulan hadir tetapi masing-masing tetap madiri. Misalnya hubungan kerja, ikatan profesi dan sebagainya.
Dalam konteks Indonesia gemeinscaft dan gesselscaft dapat tercermin pada paguyuban dan patembayan.
Paguyuban merupakan kehidupan bersama yang bersifat alamiah, mempunyai ikatan batin yang kua dan kekal. Paguyuban dapat dibedakan ke dalam tipe-tipe, yaitu:
  1. Paguyuban karena persamaan ikatan darah atau keturunan (gemeinscaft by blood), seperti keluarga, kelompok kekerabatan dan sebagainya
  2. Paguyuban karena persamaan tempat tinggal (gemeinscaft by place) seperti rukun tetangga, rukun warga dan sebagainya.
  3. Paguyuban karena persamaan keahlian, pekerjaan, atau pandangan-pandagan yang sama (gemeinscaft by mind), seperti perkumpulan kebatinan, sekte dan sebagainya.
  • Klasifikasi CH Cooley dan Ellsworth Farris
Menurut CH. Cooley membagi kelompok dalam masyarakat menjadi kelompok primer. Kelompok primer ditandai dengan pergaulan dan kerjasama tatap muka yang inti, jumlahnya kecil, saling mengenal dan memiliki solidaritas yang kuat. Misalnya, keluarga, teman bermain masa kecil, rukun warga, kerabat dan komunitas orang dewasa.
Sedangkan menurut Ellsorth Farris di dalam masyarakat ada kelompok sekunder yang bersifat formal, tidak pribadi, berciri kelembagaan, pola hubungan bersifat kontraktual. Misalnya perkumpulan partai politik, koperasi dan sebagainya.

  • Klasifikasi W.G. Sumner
Menurut Sumner kelompok sosial dapat dibedakan menjadi dua yaitu in group dan out group. In group (kelompok dalam, kelompok kami) adalah suatu kelompok sosial di mana seseoran menjadi anggoanya. Di dalam kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan, kedamaian dan solidaritas kelompok (in group feeling).
Out group (kelompok luar, kelompok mereka) adalah suatu kelompok di mana seseorang tidak menjadi anggtanya. Dilihat dari sudut "kelompok kami", kelompok mereka biasanya diposisikan sebagai partner, pesaing, rival bahkan musuh. Keterlibatan seseorang dengan "kelompok mereka" sangatlah dangkal atau tidak ada sama sekali.
  • Klasifikasi Soerjono Soekanto
Menurut Soerjono Soekanto kelompok sosial dibedakan menjadi enam, yaitu besar kecilnya jumlah anggota, kepentingan wilayah, derajat organisasi, derajat interaksi sosial, kesadaran terhadap jenis yang sama, serta hubungan sosial.
  1. Berdasarkan besar kecilnya suatu anggota. Menurut George SImmel, bentuk terkecil kelompok sosial terdiri atas satu orang sebagai fokus yan dinamakan monad. Kemudian dikembangkan lagi menjadi dyad dan triad serta kelompok kecil lainnya. Simmel menelaah kelompok-kelompok yang leih besar yaitu kelompok yang anggotanya saling kenal. Contohnya keluarga, RT, RW dan desa. Berkembang pula menjadi kelompok sosial yang lebih luas seperti kota korporasi dan negara di mana anggotanya tidak memiliki hubungan yang erat
  2. Berdasarkan pada kepentingan dan wilayah. Suatu komunitas misalnya merupaka kelompok-kelompok kesatuan atas dasar wilayah dan tidak memiliki kepentingan khusus tertentu. Asosiasi justru dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu. Suatu kerumunan (epimeral group) misalnya merupakan kelompok yang hidup sebentar saja karena kepentingannya tidak berlangsung lama.
  3. Berdasarkan derajat organisasi. Kelompok sosial dapat berupa kelompok yang terorganisasi yang baik sekali seperti negara sampai dengan kelompok yang tak berorganisasi seperti kerumunan.
  4. Berdasarkan terhadap jenis yang sama. Kelompok dibagi dalam in group dan out group. Sikap in group pada umumnya didasarkan pada faktor simapti dan mempunyai perasaan dekat pada anggta kelompok, sedangkan sikap terhadap out group ditandai dengan antagonisme dan antipati. Perasaan dalam kelompok dan luar kelompok merupakan suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme. Catatan: etnosentrisme yaitu suatu sikap menilai unsur kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran kebudayaannya sendiri.
  5. Berdasarkan hubungan sosial dan tujuan. Kelompok sosial dibedakan menjadi kelompok primer dan sekunder.
  • Kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang saling mengenal anggotanya serta terdapat kerjasama yang bersikap pribadi
  • Kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, hubungan tidak harus saling kenal secara prbadi, kuran akrab dan tidak begitu langgeng. Contohnya, orang yang melakukan kontrak (jual beli). Hubungan ini rentan konflik jika satu pihak melanggar hak-haknya.
Dalam konteks Indonesia kelompok primer dan sekunder ini tercermin pada paguyuban dan patembayan
  • Klasifikasi Kingsley Davis 
 Bentuk-bentuk kerumunan adalah sebagai berikut
  • Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial
  • Kerumunan yang bersifat sementara
  • Lawless crowd

 Hubungan antar Kelompok dalam Masyarakat


  1. Dimensi Sejarah
Hubungan antar kelompok dalam dimensi sejarah diarahkan pada pemahaman tumbuh dan berkembangnya hubungan antara kelompok. Hal ini terkait dengan stratifikasi etnis, stratifikasi jenis kelamin dan stratifikasi usia.
Stratifikasi etnis menurut Noel terjadi apabila terdapat tiga syarat, yaitu etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Contohnya, kontak kelompok hitam dan kelompok putih masa apartheid. Hal ini terjadi karena etnosentrisme pada kelompok kulit putih, adanya persaingan di bidang ekonomi dan adanya kekuasaan yang lebih besar pada kelompok kulit putih.
Stratifikasi usia terkait dengan kekuasaan, ak istimewa dan prestise yang dimiliki individu sejak mulai beranjak dewasa hingga menjelang tua. Stratifikasi jenis kelamin terkait dengan industrialisasi, pembagian kerja pada masyarakat tradisional.
  1. Dimensi Sikap
Dalam hubungan antar kelompok sosial sering muncul prasangka (prejudice) dan stereotipe (stereotype).
Prasangka merupakan sikap nermusuhan yang ditujukan pada suatu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai ciri yang tidak menyenangkan.
Stereotipe adalah citra yang kaku mengenai kelompok ras atau budaya yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut. Stereotipe memiliki sifat negatif atau positif. Misalnya, perempuan memiliki sifat keibuan, penyayang dan lembut (stereotipe positif). Orang miskin memiliki sifat bodoh, kotor, dan tidak berbudaya (sterotipe negatif).
  1. Dimensi Institusi
Dimensi institusi dalam hubungan antar kelompok dapat berupa institusi politik maupun ekonomi. Maksudnya hubungan antar kelompok dapat bersifat birokratis saja tanpa hubungan  yang lebih personal. Contohnya, seorang petugas administrasi tidak perlu mengenal baik orang-orang yang dilayaninya, hubungan yang terjadi antar mereka tak lebih dari hubungan administrasi saja.
  1. Dimensi Gerak Sosial
Hubungan antar kelompok sering melibatkan gerakan sosial, baik yang diprakarsai oleh pihak yang menginginkan perubahan maupun pihak yang mempertahankan keadaan. Contohnya, gerakan perempuan menentang KDRT maupun gerakan perempuan konservatif yang mempertahankan peran perempuan sesuai tradisi. Selain dmensi di atas dalam hubungan antar kelompok terdapat dimensi perilaku dan dimensi perilaku kolektif. Dimensi perilaku adalah perilaku satu kelompok kepada kelompok lain, misalnya diskriminatif dan pemeliharaan jarak sosial. Selain itu, hubungan antar kelompok pun sering diwarnai peristiwa perilaku kolektif, misalnya demonstrasi, huru hara, pengrusakan atau bentrokan fisik.
Pola Hubungan antar kelompok:
Hubungan antar kelompok juga diwarnai oleh pola-pola tertentu yang khas. Terhadap kelompok ras, Banton mengemukaka beberapa kemungkinan pola hubungan antar kelompok, di antaranya: akulturasi, dominasi, paternalisme, pluralisme dan integrasi
  • Akulturasi. Akulturasi terjadi ketika kebudyaan kedua kelompok ras yang bertemu mulai berbaur dan berpadu.
  • Dominasi.Dominasi terjadi bila suatu kelompok ras menguasai kelompok ras yang lain. Dalam kaitannya dengan dominasi, Kornblum menyatakan bahwa terdapat empat macam kemungkinan yang terjadi dalam suatu hubungan antar kelompok, yaitu: (a) Genosida, yaitu pembunuhan secara sengaja dan sistematis terhadap kelompok tertentu; (b) Pengusiran; (c) Perbudakan; (d) Segregasi, yaitu pemisahan antar kelompok ras tertentu dengan ras lainnya; (e) asimilasi.
  • Paternalisme. Paternalisme adalah suatu bentuk dominasi kelompok ras pendatang atas ras kelompok pribumi. Kelompok pendatang lebih kuat. Dalam pola ini, Banton mem bedakan tiga macam masyarakat yaitu: (a) Masyarakat Metropolitan; (b) Masyarakat Kolonial; (c) Masyarakat pribumi yang dijajah.
  • Pluralisme. Pluralisme adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya persamaan hak politik dan hak perdata masyarakat. Pola hubungan ini lebih mencerminkan pola hubunan antar kelompok daripada integrasi. Menurut Furnivall, masyarakat majemuk adalah suatu kelompok berbeda tetapi tidak membaur. Contohnya, masyarakat Indonesia pada masa penjajahan Belanda terdapat tiga kelompok ras berdampingan dalam satuan politik tapi terpisah: Kelompok Eropa, Kelompok Timur, dan kelompok pribumi.
  • Integrasi. Integrasi adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan perhatian khusus pada perbedaaan ras tersebut.

Kebudayaan

Wujud differensiasi dan stratifikasi sosial adalah pengelompokan masyarakat atas suku bangsa, agama, status sosial dan kelas sosial. Setiap kelompok ini tentu memiliki sistem norma dan nilai menghasilkan sebuah kebudayaan. Contohnya adalah kelompok suku bangsa yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda.

Pengertian Kebudayaan
Dari kata sansekerta buddayah, yaitu dari kata buddhi berarti budi atau akal. Ataupun culture berarti segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

  • Menurut Melville J. Herkovits memandang kebudayaan sebagai superorganik karena diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan tetap hidup walaupun orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa berganti-ganti.
  • Edward B. Taylor melihat kebudayaan sebagai hal yang kompleks mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian moral, hukum, adat istiadat, kemampuan-kemampuan, kebiasaan atau semua hal yang dimiliki manusia sebagai anggota masyarakat.
  • Ralp Linton, mengemukakan kebudayaan adalah keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.
  • Koentjaraningrat merumuskan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
  • Selo Soemardjan dan Soelaman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya rasa dan cipta masyarakat. Contohnya hasil karya manusia adalah teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture). Yang diperlukan untuk menguasai alam semeta. Contoh hasil rasa manusia meliputi jiwa manusia adalah segala kaidah dan nilai sosial meliputi agama, ideologi, kebatinan, kesenian dan semua hal yang merupakan ekspresi jiwa manusia. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat. Contohnya antara lain filsafat dan ilmu pengetahuan.

Jadi kebudayaan merupakan sistem ilmu pengetahuan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.

Wujud Kebudayaan
Berdasarkan wujudnya ada kebudayaan yang bersifat abstrak dan kebudayaan yang bersifat konkret
  1. Abstrak. letaknya ada di dalam pikiran manusia. Contohnya ide, gagasan, nilai-nilai, norma, peraturan dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat ideal artinya sesuatu yang merupakan cita-cita harapan manusai sesuai ukuran yang telah menjadi kesepakatan.
  2. Kebudayaan bersifat konkret, wujudnya berpola dari tindakan atau perbuatan aktivitas manusia di dalam masyarakat bisa dilihat, diraba, diamati, disimpan dan difoto. Contohnya: perilaku, bahasa dan materi.
Menurut Koentjaraningrat, wujud kebudayaan adalah:
  1. Artefak, benda-benda fisik
  2. Sistem tingkah laku
  3. Sistem gagasan
  4. Sistem gagasan yang ideologis
Unsur-Unsur Kebudayaan
Menurut Melville J. Herkovitas menyebut 4 unsur kebudayaan yaitu alat-alat teknologi sistem ekonomi, keluarga dan kekuasaan politik.

Bronislow Malonowski menyebut empat unsur kebudayaan:

  1. Sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antara anggota masyarakat
  2. Organisasi ekonomi
  3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan seperti keluarga
  4. Organisasi kekuatan

Clyde Kluckohn menyebut 7 unsur kebudayaan yaitu:

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, permuahan, alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi dan transportasi).
  2. Mata pencaharian
  3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
  4. Bahasa (lisan, tertulis)
  5. Kesenian (rupa, suara, dan gerak)
  6. Sistem pengetahuan
  7. Sistem kepercayaan
Kebudayaan menurut Cluckhon disebut sebagai kebudayaan universal.
Menurut Malinowski, setiap unsur kebudayaan tersebut memiliki unsur kebudayaan yang cocok dalam rangka kebudayaan secara keseluruhan. Apabila ada unsur yang kehilagan kegunaan, unsur tersebut akan hilang dengan sendirinya
Kebudayaan berbeda dengan peradaban (civilization). Peradaban untuk menyebut serta unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya halus, maju, dan indah seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun, kepadaian menulis dan organisasi bernegara


Fungsi Kebudayaan
Manusia dan masyarakat juga membutuhkan kepuasan, baik spiritual maupun kepuasan material. Sebagian besar kebutuhan manusia dan masyarakat tersebut dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber dari masyarakat itu sendiri,. Berikut ini ada beberapa fungsi kebudayaan:

  1. Hasil karya manusia melahirkan teknologi dan kebudayaan kebendaaan. Teknologi memiliki sedikitnya dua kegunaan yakni melindungi masyarakat dari ancaman lingkungan dan memberikan masyarakat untuk memanfaatkan alam. Contohnya ancaman kedinginan dan hujan manusia menciptakan mantel, rumah, pakaian, payung dan sebagainya. Juga untuk memenuhi kebutuhan akan pangan manusia menciptakan teknologi pertanian seperti irigasi, pupuk, traktor pembibitan dan pencangkokan.
  2. Karsa masyarakat yang mewujudkan perwujudan norma dan nilai-nilai sosial dapat menghasilkan tata tertib dalam pergaulan masyarakat. Yang merupakan patokan tentang bagaimana manusia harus bertindak, berbuat dan menentukan sikap ketika manusia harus bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya ketika berhubungan satu dengan lainnya. Dapat berupa adat istiadat (custom) dan sejumlah peraturan (hukum)
  3. Juga terdapat pola-pola perilaku (pattern behavior) yang merupakan cara-cara masyarakat untuk bertindak dan berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut. Kebudayaan dinamakan pula struktur normatif atau gambaran petunjuk dalam hidup. Artinya kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang seharusnya dilakukan, apa yang dilarang dan sebagainya

Karakteristik Kebudayaan
Kebudayaan masyarakat di dunia ini memiliki karakteristik umum di antaranya adalah bahwa kebudayaan merupakan milik bersama, merupakan hasil belajar, didasarkan pada lambang dan terintegrasi.

  1. Kebudayaan adalah milik bersama
  2. Kebudayaan merupakan hasil belajar
  3. Kebudayaan didasarkan lambang
  4. Integrasi kebudayaan

Sifat Kebudayaan
Secara umum sifat kebudayaan sebagai berikut:

  1. Kebudayaan bersifat universal
  2. Kebudayaan bersifat stabil dan dinamis
  3. Kebudayaan cenderung mengisi dan menentukan jalannya kehidupan manusia walaupun jarang disadari manusia itu sendiri.

Hubungan antara Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Masyarakat
  1. Peralatan dan Perlengkapan Hidup
  2. Sistem Mata Pencaharian
  3. Sistem Kemasyarakatan
  4. Bahasa
  5. Kesenian
  6. Sistem Ilmu Pengetahuan
  7. Sistem Kepercayaan

Dinamika Unsur-Unsur Kebudayaan
Tak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan memiliki dinamika atau gerak, yang sebenarnya merupakan gerak manusia dalam masyarakat. Perubahan karena adanya unsur kebudayaan asing yang masuk ke kebudayaan Indonesia. Sebuah kebudayaan masuk ke kebudayaan yang lain karena proses akulturasi, asimilasi, inovasi dan difusi.
  • Akulturasi
Akulturasi adalah proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan kebudayaan asing. Kebudayaan itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa mengakibatkan hilangnya suatu unsur kebudayaan kelompok itu sendiri
  • Asimilasi
Asimilasi dalam masyarakat terjadi ketika berbagai kelompok manusia dengan latar belakang yang berbeda berinteraksi secara intensif dalam waktu yang lama hingga kebudayaan manusia itu berubah sifat dan unsur-unsurnya sehingga menjadi kebudayaan campuran. Proses ini terjadi bila ada sikap terbuka dari masyarakat yang berbeda kebudayaan tersebut.
  • Inovasi
Inovasi adalah proses pembauran dalam unsur kebudayaan masyarakat. Dikenal ada discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru. Discovery menjadi invention jika masyarakat sudah mengakui, menerima dan memanfaatkan hasil penemuan tersebut.
Inovasi dapat menyebabkan perubahan pada bidang-bidang lain dalam masyarakat. Inovasi dapat menyebabkan perubahan pada sistem kemasyarakatan. Contoh: penemuan dalam bidang teknologi pertanian kemasyarakatan. Contohnya: penemuan dalam bidang teknologi pertanian akan mempengaruhi teknik dan cara petani mengolah tanah.
  • Difusi
Proses penyebaran kebudayaan dari satu daerah ke daerah yang lain secara langsung maupun tidak langsung. Diffusi dapat terjadi dalam masyarakat itu sendiri (Intra society diffusion) dan antar masyarakat (inter society diffusion).
Difusi dalam kelompok masyarakat terjadi jika:
  • adanya pengakuan bahwa unsur baru tersebut berguna
  • Tidak adanya unsur kebudayaan asli yang menolak terhadap kebudayaan baru
  • Unsur baru tidak bertentangan dengan yang lama
  • Pemimpin masyarakat tersebut dapat membatasi proses difusi.
Difusi antarmasyarakat dapat terjadi jika:
  • Adanya kontak masyarakat satu dengan masyarakat yang lain
  • Masyarakat mampu mendemonstrasikan manfaat penemuan baru tersebut
  • Masyarakat mengakui kegunaan penemuan baru tersebut
  • Tidak adanya unsur kebudayaan lain yang menyaingi unsur penemuan baru tersebut
  • Masyarakat berperan dalam penyebarannya.
  • Ada paksaan untuk menerima unsur baru tersebut.
Proses diffusi ini bisa terjadi secara damai (penetrasi pasifique) atau secara paksaan (penetrasi violence). Contohnya: masuknya hindu dan masuknya kebudayaan barat zaman penjajahan.

Wednesday, 24 June 2015

Mobilitas Sosial

Pengertian Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial diartikan sebagai gerak perindahan dari suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial lainnya atau gerak perpindahan dari strata satu ke strata lainnya.

Dalam dunia modern banyak orang berupaya meningkatkan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal itu akan membuat orang menjadi lebih sejahtera dan memungkinkan mereka untuk melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi mereka. Jika tingkat mobilitas tinggi mesiki latar belakang sosial mereka berbeda mereka akan tetap merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan yang lebih tinggi, dan jika mobilitas sosial rendah mereka akan terkungkung dalam status sosial nenek moyangnya.

Mobilitas sosial mempunyai kaitan dengan stratifikasi sosial. Arah gerakan sosial, dapat secara horizontal maupun vertikal. Gerak dapat secara horizontal maupun vertikal. Gerakan horizontal lebih mudah terjadi pada masyarakat yang terbuka karena lebih mungkin berpindah strata. Sebaliknya masyarakat yang tertutup kemungkinan untuk pindah strata mengalami kesulitan.

Bentuk Mobilitas Sosial
  1. Mobilitas Sosial Horizontal. Merupakan peralihan dari individu dari kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat.
  2. Mobilitas Sosial Vertikal. Merupakan suatu perpindahan sosial dari satu status ke status yang lainnya dalam strata yang berbeda.
    1. Mobilitas Vertikal ke atas
    2. Mobilitas Vertikal ke bawah
  3. Mobilitas antargenerasi, intragenerasi dan gerak geografis
Mobilitas antargenerasi, merupakan mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu dan seterusnya. Bisa merupakan perkembangan taraf hidup baik naik maupun turun.
Mobilitas intragenerasi adalah mobilitas yang terjadi dalam satu generasi yang sama. Mempunyai du bentuk yaitu intragenerasi naik maupun turun.
Mobilitas sosial geografis adalah perpindahan individu maupun kelompok dari satu daerah ke daerah lainnya, misalnya transmigrasi, urbanisasi dan migrasi

Faktor yang Memengaruhi Mobilitas Sosial
  1. Perubahan kondisi sosial
  2. Ekspansi territorial atau gerak populasi
  3. Komunikasi yang bebas
  4. Pembagian kerja
  5. Tingkat fertilitas yang berbeda
  6. Situasi Politik
Faktor Penghambat Mobilitas Sosial

  • Perbedaan rasial dan agama
  • Diskrimnasi kelas dalam sistem terbuka
  • Kelas-kelas sosial
  • Kemiskinan
  • Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat
Cara Melakukan Mobilitas Sosial

  • Perubahan standar hidup
  • Perubahan tempat tinggal
  • Perubahan tingkah laku
  • Perubahan nama
  • Pernikahan
  • Bergabung dengan asosiasi tertentu
Saluran Mobilitas Sosial

  1. Angkatan Bersenjata
  2. Lembaga Keagamaan
  3. Lembaga Pendidikan
  4. Organisasi Politik

Hubungan Mobilitas Sosial dengan Struktur Sosial

  1. Konflik antar kelas
  2. Konflik antar kelompok sosial
  3. Konflik antar generasi
  4. Penyesuaian kembali

Konflik dan Integrasi

Pengertian Konflik
Konflik diartikan sebuah proses sosial antara dua orang atau lebih dan berusaha menghancurkan pihak lain atau dibuat tak berdaya.
  • Menurut Robert MZ Lawang, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga menundukkan saingannya.
  • Menurut James W. vander Zanden, konflik diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan akan hak atas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan, merugikan atau menyisihkan lawan mereka.
  • Menurut Drs. Ariyono Suyono, konflik adalah proses keadaan di mana dua pihak berusaha mengagalkan tercapainya tujuan masing-masing disebabkan perbedaan pendapat, nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak.
  • Levis A. Coser, konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tujuan maksud menetralkan atau mencederai lawan.
  • Gillin, konflik adalah interaksi sosial yang saling berlawanan.
  • Menurut Soedjono Soekanto, konflik atau pertentangan ndalah suatu proses sosial di mana orang perorang atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.
Dalam konflik atau pertikaian biasanya muncul karena adanya perbedaa-perbedaan seperti jasmaniah, rohaniah, pandangan, perasaan dan kelakuan pribadi atau kelompok. Pertentangan bisa muncul karena perasaan benci, marah atau dendam karena ada perbedaan yang menyebabkan seseorang atau kelompok untuk menyerang atau menghancurkan.


Faktor Penyebab Konflik dalam Masyarakat

  1. Perbedaan antar individu. Misalnya perbedaan pendirian atau perbedaan pandangan.
  2. Perbedaan kebudayaan. Perbedaan ini dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku perorangan dalam kelompok kebudayaan yang bersangkutan.
  3. Perbedaan kepentingan. Bisa terjadi antara orang perorang atau kelompok misalnya kepentingan dalam ekonomi, politik, sosial dan sebagainya.
  4. Perubahan sosial. Adanya peruabhan sosial yang terlalu cepat dalam masyarakat dapat menyebabkan timbulnya perubahan nilai-nilai dan norma-norma, juga menyebabkan perbedaan pendirian. Perbedaan-perbedaan ini dapat mendorong terjadinnya organisasi atau perpecahan.

Bentuk-Bentuk Konflik
Menurut Soerdjono Soekanto:

  • Konflik Pribadi
  • Konflik rasial
  • Konflik antar kelas sosial
  • Konflik politik
  • Konflik Internasional
Menurut Levis A. Coser membedakan konflik dalam dua bentu, yaitu:
  • Konflik realistis
  • Konflik non-realistis

Jenis-jenis Konflik

  1. Berdasarkan sifatnya, dibedakan menjadi dua yaitu:
    1. Konflik destruktif
    2. Konflik konstruktif
  2. Berdasarkan posisi pelaku yang berkonfllik, dibedakan menjadi tiga yaitu
    1. Konflik vertikal
    2. Konflik horizontal
    3. Konflik diagonal

Segi Positif Konflik
  1. Dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau belum tuntas.
  2. Memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma dan nilai-nilai, serta hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan sesuai dengan kebutuhan individu atau kelompok.
  3. Merupakan jalan mengurangi ketegangan antar individu atau kelompok
  4. Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru
  5. Dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat
  6. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dan kelompok lain
  7. Memunculkan kompromi baru bila pihak-pihak berkekuatan seimbang

Segi Negatif Konflik
  1. Retaknya persatuan kelompok
  2. Perubahan kepribadian individu
  3. Hancurnya harta benda atau jatuhnya korban manusia
  4. Dominasi bahkan taklukan pihak-pihak yang berkonflik
  5. Ini terjadi apabila pihak-pihak yang berkonflik tidak seimbang, menyebabkan dominasi oleh satu pihak lawannya dan pihak yang kalah merasa takluk

Manfaat adanya Konflik
  1. Konflik dapat meningkatkan solidaritas kelompok, jiak suatu kelompok dengan kelompok luar, maka anggota-anggotanya itu bersatu karena merasa menghadapi musuh bersama
  2. Konflik dapat berfungsi menjadi alat pengubah sosial


Pemecahan Konflik
Usaha manusia untuk meredakan suatu pertikaian atau konflik untuk mencapai kestabilan dinamakan akomodasi
Bentuk-bentuk akomodasi:
  1. Genjatan Senjata, yaitu menanggalkan permusuhan untuk waktu tertentu
  2. Arbitrase, yaitu perselisihan dihentikan pihak ketiga dan kedua pihak menyetujui
  3. Konsiliasi, yaitu usaha mempertemukan keinginan pihak ketiga dan mencapai perdamaian
  4. Ajudikasi, yaitu penyelesaian perkara ke pengadilan
  5. Stalemate, yaitu pertentangan yang berhenri dengan sendirinya karena kekuatan yang sama
  6. Kompromi, yaitu kedua pihak yang bertentangan berusaha mencari penyelesaian
  7. Integrasi, pendapat yang bertentangan didiskusikan sampai mendapat keputusan yang memuaskan semua pihak


Kekerasan
Kekerasan adalah bentuk lanjutan dari sebuah konflik sosial. Secara sosiologis disebabkan ketika kelompok mengabaikan norma dan nilai.

Teori tentang Kekerasan
  • Teori Faktor Individual. Faktor penyebab kekerasan adalah faktor pribadi (kelainan jiwa, seperti psikopat, frustasi kronis, pengaruh obat bius) dan faktor bersifat sosial (konflik rumah tangga, faktor budaya dan media massa).
  • Teori Faktor Kelompok. Individu membentuk kelompok dengan mengedepanka identitias berdasar persamaan ras, agam dan etnik. Benturan antar identitas kelompok yang berbeda sering menjadi penyebab kekerasan. Contoh: kekerasan di Poso.
  • Teori Dinamika Kelompok. Menurut teori ini kekerasan timbul karena adanya deprivasi relative (kehilangan rasa memiliki) yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Artinya, perubahan-perubahan sosial yang terjadi demikian cepat dalam sebuah masyarakat tidak mampu ditanggap dengan seimbang oleh sistem sosial dan nilai masyarakatnya. Contohnya masyarakat setempat yang menjadi terasing akibat pendatang yang begitu high tech. Perkembangan itu menyebabkan masyarakat setempat merasa terasing dan timbullah deprivasi relative yang berakhir dengan kekerasan atau perlawanan. Kekerasan massa tersebut disebabkan karena situasi sosial yang memungkinkan timmbulnya kerusahan akibat struktur sosial tertentu, lalau berkembang prasangka terhadap sasaran tertentu yang berkaitan dengan faktor pencetus/pemicu kerusuhan seperti nyani sindiran, ejekan, dan lain-lain, lalu ada mobilisasi massa untuk beraksi. Namun ini pun tergantung dari kontrol sosial para aparat keamanan untuk mengendalikan atau menghambat kerusuhan
  • Teori Alternatif.
    • Teori lingkungan sosial
    • Teori individual
    • Teori ideologi

Cara Pengendalian Konflik dan Kekerasan
Konflik merupakan gejala sosial yang senantiasa melekat di dalam kehidupan setiap masyarakat. Ada tiga syarat agar konflik tidak berakhir dengan kekerasan:
  1. Setiap kelompok yang terlibat konflik harus menyadari akan adanya situasi konflik di antar mereka. Mereka berusaha melaksanakan prinsip-prinsip keadilan secara jujur.
  2. Ada pengendalian konflik berupa terorganisasinya kekuatan sosial yang bertentangan.
  3. Mematuhi aturan main tertentu yang telah disepakati bersama
Padan umumnya masyarakat memiliki sarana atau mekanisme untuk mengendalikan konflik dalam tubuhnya. Beberapa ahli menyebutnya safety valve yaitu suatu mekanisme khususu yang dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik.
Secara umum ada tiga bentuk pengendalian konflik yaitu:
  • Konsiliasi, melalui lembaga yang otonom
  • Mediasi, kedua pihak yang bertikai menunjuk pihak ketiga sebagai mediator memberi pemikiran atau nasehat tentang cara menyelesaikan pertentangan diantara mereka tanpa kehilangan muka
  • Arbitrase, kedua pihak yang konflik sepakat menerima atau terpaksa menerima keputusan-keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik
Ada juga pengendalian konflik yang lain seperti: memberi perhatian salah satu pihak yang konflik dengan menyuap, memakai wasit


Integrasi Sosial
Integrasi sosial adalah pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Jadi integrasi adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat hingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur tersebut meliputi: perbedaan keduduka sosial, ras, etnik, agama, bahasa dan kebiasaan sistem nilai dan norma.
Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut sepakat mengenai struktur kemasyarakatan yang termasuk nilai-nilai, norma dan pranata sosialnya.

Bentuk-bentuk Integrasi Sosial
  1. Integrasi Normatif, akibat adanya norma yang berlaku di masyarakat seperti prinsip Bhineka Tunggal Ika
  2. Integrasi Fungsional, terbentuk karena fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat. Misalnya suku bugis yang suka melaut difungsikan sebagai penyedia hasil-hasil laut.
  3. Integrasi Koersif, terbentuk berdasarkan kekuasaan yang dimiliki penguasa, dalam hal ini pengausa melakukan cara-cara kekerasan (koersif).

Proses-proses Integrasi
Asimilasi, suatu proses yang ditandai dengan mengurangiu perbedaan diantara individu dan kelompok dalam masyarakat saat itu setiap anggota akan hilang dan melebur menjadi satu kesatuan dengan memperhatikan tujuan bersama.
Akulturasi, menurut Koentjaraningrat, akulturasi adalah proses yang terjadi bila kelompok sosial dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada kebudayaan asing yang berbeda. Proses sosial itu akan berlangsung sampai kebudayaan asing itu diterima dan diolah dalam kebudayaannya sendiri, tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan sendiri

Faktor-faktor Pendorong Integrasi Sosial
  1. Toleransi
  2. Kesempatan seimbang dalam ekonomi
  3. Sikap saling menghargai orang lain dengan kebudayaannya
  4. Sikap dari golongan berkuasa
  5. Persamaan dalam unsur kebudayaan
  6. Perkawinan campuran (amalgamation)
  7. Ada musuh bersama dari luar

Monday, 22 June 2015

Struktur Sosial, Stratifikasi Sosial dan Differensiasi Sosial

Pengertian Struktur Sosial
Struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yag dapat diprediksikan melalui perilaku berulang antar individu dan antar kelompok.

Pengendalian Sosial

Pengertian Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial adalah segala sesuatu, baik metode atau proses-proses yang dipergunakan untuk memengaruhi, mengajak atau memaksa individu atau kelompok masyarakat agar berperilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai dalam masyarakat. Harapannya, terbentuk ketertiban dan tidak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh anggota masyarakat.

Pengendalian sosial berfungsi untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang teratur dan sesuai dengan norma-norma yang telah disepakati bersama.

Perilaku Menyimpang

Definisi Perilaku Meyimpang

Sunday, 21 June 2015

Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Pengertian Sosialisasi

  1. Sosialisasi adalah proses yang berlangsunbg seumur hidup manusia
  2. Dalam sosialisasi terjadi saling mempengaruhi antar individu dengan masyarakat beserta kebudayaannya
  3. Melalui proses sosialisasi individu menyerap pengetahuan, kepercayaan, nilai-nilai, norma, sikap, keterampilan-keterampilan dari kebudayaan masyarakatnya
  4. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan dan nilai dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat
  5. bagaiman seseorang berperan sesuai nilai, kebiasaan, norma sosial dan peran-peran.
  6. Hasil sosialisasi adalah berkembangnya kepribadian seseorang menjadi satu pribadi yang unik, sedangkan kebudayaan masyarakat juga terpelihara dan berkembang melalui sosialisasi



Proses Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
Sosialisasi berlangsung melalui interaksi sosial antar manusia. Manusia mempelajari sesuatu dari orang-orang yang terpenting dalam hidupnya, seperti anggota keluarga, teman baik, dan para guru. Namun demikian manusia juga orang-orang ditemui di jalan, televisi, dalam film, majalah atau internet.

Hal-hal yang disosialisasikan dalam proses sosialisasi adalah pengetahuan, nilai, norma serta keterampilan hidup. Pengetahuan disosialisasikan melalui proses pendidikan dan pengajaran, keterampilan disosialisasikan melalui proses pelatihan. Pada akhirnya nilai dan norma sosial diinternalisasikan oleh orang yang trlibat dalam sosialisasi. Proses internalisasi adalah proses mempelajari atau menerima nilai-nilai dan norma sosial sepenuhnya sehingga menjadi bagian dari sistem nilai dan norma yang dianutnya.

Menurut G. Herbert Mead menyatakan bahwa pembentukan diri seseorang berlangsung melalui pengambilan peran. Ketika lahir manusia mempuyai diri mausia yang berkembang tahap demi tahap melalui interaksi dengan melalui interaksi dengan anggota masyarakat. Setiap anggota baru harus mempelajari peran-peran dalam masyarakatnya. Dalam proses ini seseorang belajar mengenai peran apa yang dijalaninya dan apa yang dijalankan orang lain. Ada beberapa tahapan perkembangan diri manusia

  1. Imitation Stage, anak mulai melakukan kegiatan meniru (imitasi), tetapi tidak sempurna.
  2. Play Stage, anak semakin sempurna menirukan peran orang dewasa
  3. Game Stage, anak mulai memahami peran yang dijalankan oleh seseorang dan juga sudah mulai mengenal norma-norma/aturan.
  4. Generalized Others, seseorang sudah dianggap dewasa dan harus menerima/menjalankan norma yang berlaku.


Tujuan Sosialisasi

  • Membekali seseorang dengan keterampilan tertentu
  • mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif
  • Mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan mawas diri yang tepat
  • Membiasakan diri berperilaku sesuai nilai-nilai yang ada di masyarakat
Bentuk-Bentuk Sosialisasi

  • Sosialisasi Primer
Yaitu sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil di mana ia belajar menjadi anggota masyarakat yang berfungsi mengantar mereka memasuki kehidupan sebagai anggota masyarakat. Sosialisasi primer terjadi dalam keluarga
  • Sosialisasi Sekunder
Yaitu sosialisasi lanjutan yang memperkenalkan individu ke dalam lingkungan di luar keluarganya seperti sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja. 

Tipe Sosialisasi

  • Sosialisasi Formal. Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah ataupun pendidikan militer.
  • Sosialisasi Informal. Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub dan kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat.
Pola Sosialisasi

  • Sosialisasi Represif. Menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, komunikasi satu ara, kepatuhan penuh anak-anak terhadap orang tua. perang orang tua sangat dominan.
  • Sosialisasi Partisipatif. Yaitu sosialisasi yang lebih mengutamakan penggunaan motivasi, persuasi, komunikasi timbal balik dan penghargaan terhadap otonomi anak. Orang tua merupakan partner sharing tanggung jawab dalam proses tersebut. Merupakan pola anak diberi imbalan ketika berperilaku baik.
Media Sosialisasi

  1. Keluarga
  2. Teman Bermain
  3. Sekolah
  4. Media Massa
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi

  • Kematangan Fisik Seseorang
Kematangan fisik ini berkaitan dengan usia seseorang. Kematangan fisik diperlukan untuk mensosialisasikan cara-cara berbahasa dan melakukan beberapa keterampilan dasar.
  • Lingkungan atau sarana sosialisasi
    • Interaksi dengan sesamanya sangat penting dalam proses sosialisasi karena merupakan suatu cara untuk melatih seseorang hidup bermasyarakat
    • bahasa
    • mengomunikasikan gagasan dan nilai kepada orang lain
    • kasih sayang
    • diperlukan bagi kesehatan mental dan fisik seseorang dan kondusif bagi prose sosialisasi dengan saling memerhatikan, saling melindungi
  • Keinginan yang Kuat
Faktor terpenting dalam prose sosialisasi adalah keinginan melakukan sesuatu yang baik, prestasi atau need for achievement,


Pengertian Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temperamen seseorang.

Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

  • Warisan Biologis (Keturunan)
Warisan biologis adalah semua yang diterima seseorang sebagai manusia melalui gen kedua orangtuanya.
  • Lingkungan Fisik (Geografis)
Secara khusus lingkungan fisik tidak mendorong terjadinya kepribadian, namun lingkungan fisik memberi serangkaian pembatasan bagi kebudayaan yang mungkin berkembang. Pada gilirannya kebudayaan itulah yang mempengaruhi kepribadian. Contohnya, suku di Uganda yang tinggal di daerah kering dan tandus sehingga mereka menjadi orang yang berusah mempertahankan hidupnya dengan cara yang keras.
  • Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial baik berupa gagasan, aktivitras dan hasil dari aktivitas manusia yang digunakan untuk memahami lingkungan dan pengalamannya, serta dijadikan pedoman hidup masyarakat.

Setiap masyarakat mengembangkan satu atau beberapa macam kepribadian dasar y6ang sesuai dengan kebudayaannya. Aspek kebidayaan yang berpengaruh terhadap kepribadian adalah norma kebudayaan.

Contohnya orang bugis memiliki budaya merantau dnengan mengarungi lautan, budaya ini membuat pribadi orang bugis menjadi pemberani.
  • Pengalaman Kelompok
Kelompok adalah wahana dimana seseorang mengalami peristiwa bersama-sama. Seseorang menyadari kebiasaan, memahami larangan dan menerima hadiah dan hukuman dari kelompok. Kelompok merupakan saran langsung untuk menyalurkan kebudayaan kepada seseorang. Dari berbagi kelompok yang melingkupi kehidupan seseorang, ada kelompok yang menjadi model bagi gagsan dan norma perilaku soseraong. kelompok ini mengacu kepada reference group.

Contohnya, anak usia remaja menekankan ego untuk menanamkan corak perilaku melalui kelompok sebayanya walaupun bertentangan dengan perilaku keluarganya.
  • Pengalaman Unik

Pengalaman uniki mengandung pengertian bahwa tidak seorangpun mengalami serangkaian pengalaman yang persis satu sama lain dan tidak seorangpun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.

Dari kelima faktor pembentukan diatas, sosiologi memusatkan pada pembentukan diri karena diri seseorang terbentuk melalui refleksi atau cerminan orang lain terhadapnya yakni lingkungan kebudayaan, pengalaman kelompok dan pengalaman unik.

Tahap-Tahap perkembangan Kepribadian
Kepribadian seseorang berkembang melalui delapan tahap, yaitu:

  1. Tahap Bayi (Trust versus Mistrust)
  2. Tahap Anak-anak (Autonomy versus shame, doubt)
  3. Tahap Bermain (initiative versus guilt)
  4. Tahap Sekolah (industry versus inferiority)
  5. Tahap Remaja (identitiy versus role confusion)
  6. Tahap Dewasa (intimacy versus isolation)
  7. Tahap Dewasa Menengah (generativity versus stagnation)
  8. Tahap Tua (integrity versus despair)