Showing posts with label Sejarah Indonesia Madya. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Indonesia Madya. Show all posts

Monday, 30 December 2019

Kerajaan Perlak

Berdasarkan Seminar Sejarah Islam di Medan tahun 1963, Seminar Sejarah Islam di Banda Aceh tahun 1978, dan Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara tahun 1980 di Banda Aceh mengukuhkan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonsia adalah Perlak.

a. Sumber Sejarah
Yang termasuk dalam bukti Kerajaan Perlak adalah sebagai berikut
  • Idharatul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi  karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy.
  • Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sultan as Salathin karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah As Asyi.
  • Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasao  catatan dari Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin.
Ketiga naskah tua tersebut mencatat bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Islam Perlak. Ishak Makarani Al Fasy menyebutkan bahwa Kerajaan Perlak didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 H (840 M) dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah yang semula bernama Saiyid Abdul Aziz.

Kerajaan Perlak juga meninggalkan artefak yaitu:
  • Mata Uang Perlak. Mata uang Kerajaan Perlak merupakan mata uang tertua di Nusantara. Mata uang Perlak terdiri dari tiga jenis, yaitu terbuat dari emas (dirham), dari perak (kupang) dan tembaga atau kuningan
  • Stempel Kerajaan. Stempel tersebut bertuliskan huruf Arab yang membentuk kalimat Al Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512. Kerajaan  Negeri Bendahara adalah bagian dari Kerajaan Perlak.
  • Makam Raja Benoa. Merupakan makam dari salah seorang Raja Benoa di tepi Sungai Trenggulon yang pada batu nisannya bertuliskan huruf Arab. Berdasarkan penelitian Dr. Hassan Ambari, nisa tersebut dibuat sekitar abad ke-4 H atau abad ke-11 M. Menuut Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasy, Benoa adalah negara bagian dari Kerajaan Perlak

b. Raja-raja yang Memerintah Kerajaan Perlak

  1. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah
  2. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdurrahin Syah
  3. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abbas Syah
  4. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Ali Mughayat Syah
  5. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Kadir Syah Jouhan Berdaulat\
  6. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah Jouhan Berdaulat
  7. Sultan Makhdum Alaidin Malik Jouhan Berdaulat
  8. ll
  9. Sultan Makhdum Alaidin Malik Mahmud Syah Jouhan Berdaulat
  10. Sultan Makhdum Alaidin Mansyur Syah Jouhan Berdaulat
  11. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdullah Syah Jouhan Berdaulat

Wali Songo

SELAMATKAN GENERASI MUSLIM DARI PEMBODOHAN DAN KEBOHONGAN SEJARAH !!!
WALI SONGO UTUSAN KHALIFAH
Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?
Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.
Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.
Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.
Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.
PERIODE DAKWAH WALI SONGO
Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.
Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).
Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.
Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.
Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.
Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.
Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.
Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.
Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.
Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.
Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.
Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.
KESIMPULAN
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)
Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.
- Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
- Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
- Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
- Juga Syaikh Ja'far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
- Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
berbagai sumber

Saturday, 2 March 2019

Kerajaan Mataram Islam

Setelah Pajang runtuh sebagai sebuah kerajaan besar, maka Mataraim Islam pun berdiri dan mulai terkenal sebagai sebuah kesultanan besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan Mataram ini adalah lanjutan dari Kerajaan Pajang, yang pendirinya masih keturunan Pajang.

Nah berikut ini cerita awal yang singkat mengenai berdirinya Kerajaan Mataram Islam dan raja-raja yang memerintah di sana.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

Dalam sejarah, disebutkan bahwa Kerajaan Matram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang berdiri pada abad 17. Kerajaan Mataram Islam ini dipimpin oleh suau dinasti keturunan Ki Ageng Sela (/) dan Ki Ageng Pamanahan, yang mengklaim sebagai cabang ningrat, yaitu keturunan penguasa Majapahit.

Asal usulnya adalah suatu kadipaten di bawah Kerajaan Pajang yang berpusat di Bum Mentaok, dan diberikan kepada Ki Ageng Pamanahan sebagai hadiah atas jasanya (?). Raja berdaulat pertama adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati), putra dari Ki Ageng Pamanahan.

Berdirinya Kerajaan Mataram Islam bermula dari Kerajaan Pajang. Menurut kisahnya, setelah Kerajaan Demak runtuh, Kerajaan Pajang merupakan satu-satunya kerajaan di Jawa Tengah. Meskipun demikian, Raja Pajang masih mempunyai musuh kuat yang berusaha menghancurkan kerajaannya, yaitu seseorang yang masih keturunan keluarga Kerajaan Demak yang bernama Arya Penangsang.

Maka, raja membuat sebuah sayembara bahwa barang siapa mengalahkan Arya Penangsang atau dapat membunuhnya, maka akan diberi hadian tanah di Pati dan Mataram. Ki Ageng Pamanahan dan Ki Penjawi yang merupakan abdi prajurit Pajang berniat mengikuti sayembara tersebut.

Dalam peperangan, akhirnya Danang Sutawijaya berhasil mengalahkan dan membunuh Arya Penangsang. Sutawijaya adalah anak dari Ki Ageng Pemanahan, sekaligus anak angkat dari Raja Pajang (?). Karena itlah, maka tidak mungkin apabila Ki Ageng Pamanahan memberitahukannya kepada Sultan Hadiwijaya. Sehingga, Kiai Juru Martani mengusulkan agar Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi memberitahukan kepada Sultan Hadiwijaya bahwa merekalah yang membunuh Arya Penangsang.

Karena jasanya itu, Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok, sedangkan Ki Penjawi mendapatkan tanah di Pati. Ki Ageng Pemanahan berhasil membangun Hutan Mentaok menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya.

Setlahh Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia pada tahun 1575, ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering kali disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya berhasil memberontak kepada Pajang.

Stelah Sultan Hadiwijayya wafat (1582), Sutawijaya mengangkat diri sebagai Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayyidin Panatagama (1586-1601). Masa pemerintahan Panembahan Senapati diwarnai dengan perang ters menerus dalam rangka menundukkan para bupati yang berupaya memisahkan diri maupun memperluas wilayah kekuasaannya. Pajang pun dijadikan sebagai salah satu bagian dari Mataram yang beribu kota di KotaGede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601. ia digantikan putranya bernama Mas Jolang (1601-1613) dengan gelar Sultan Anyokrowati.

Pada masa pemerintahan Mas Jolang banyak bupati di Jawa Timur memberontak. Pemberontakan ini dihadapi dengan susah payah oleh Mas Jolang. Sebelum pemberontakan tersebut dapat diselesaikan pada tahun 1913, Mas Jolang wafat di Krapyak. Ia digantikan oleh putranya bernama Raden Mas Martapura. Namun karena sakit-sakitan, ia turun tahta dan digantikan oleh Mas Rangsang, dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati ing Alaga Ngabdurahman.


Kerajaan Demak

Demak adalah Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa yang berada di daerah pesisir utara Jawa Tengah. Pada masa itu, Demak merupakan kesultanan peralihan dari Hindu-Buddha ke Islam.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Demak

Searah berdirinya Kerajaan Demak tidak lepas dari biografi hidup Raden Patah. Ia yang tak lain masih keturunan Majapahit, menurut silsilah beliau putra Raja Kertabhumi (Brawijaya V) dengan putri cina. Nama kecilnya adalah Pangeran Jimbun. Menurut sejarah, ia ialah putra Raja Majapahit yang terakhir dari Garwa Ampean. Raden Patah dilahirkan di Palembang. Ia dididik secara islami, sehingga menjadi pemuda yang taat beragama Islam.

Setelah usia 20 tahun, Raden Patah dikirim ke Jawa untuk memperdalam ilmu agama di bawah asuhan Raden Rahmat. Kemudian Raden Patah menikah dengan cucu Raden Rahmat, lantas menetap di Demak (Bintoro)

Sekitar tahun 1475 M, Raden Patah mulai melaksanakan perintah gurunya, dengan membuka madrasah atau pondok psantren di daerah tersebut. Rupanya, tugas yang diberikan kepada Raden Patah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Lama kelamaan, desa Glagahwangi dikunjungi banyak orang.

Tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga sebagai pusat perdagangan, bahkan menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa. Desa Glagahwangi, karena ramai dalam perkembangannya, akhirnya menjadi ibu kota negaa dengan nama Bintoro Demak.Selaku Bupati Demak, yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Pada tahun 1500, Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit ketika pemerintahab dipegang oleh Girindrawarna.

Setelah  lepas dari Majapahit, Raden Patah kemudian memproklamasikan berdirinya Kesultanan Demak. Kesultanan ini merupakan kerajaan Islam di Pulau Jawa yang mendapat dukungan para wali. Berdirinya kesultanan Demak diawali dengan ancaman Portugis di Malaka. Berangkat dari hal tersebut, maka pada tahun 1513, Demak mengirim armada lautnya untuk menyerang Portugis yang dipimpin oleh Pati Unus, putra Raden Patah. Serangan yang diarahkan ke Malaka tersebut melewati laut di sebelah utara Pulau Jawa sehingga Pati Unus kemudian dikenal dengan nama Pangeran Sabrang Lor. Sayangnya serangan Pati Unus tersebut gagal karena kalah persenjataan.

Pati Unus (1518-1521) kemudian menggantikan Raden Patah sebagai Raja Demak. 

Tuesday, 11 October 2016

Kerajaan Samudera Pasai

Pada tahun 1267 ada sebuah kerajaan besar yang muncul di tanah Melayu, yakni Samudera Pasai. Kerajaan Samudera Pasai muncul menggantikan Kerajaan Perlak yang semakin mengalami kemunduran.

Seorang penguasa lokal di daerah Samudera (samudera mana?)  bernama Marah Silu (Meurah Silu) dibantu oleh Syekh Ismail (seorang syarif dari Mekah) berhasil mempersatukan daerah Samudera dan Pasai. Kedua daerah tersebut kemudian dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudera Pasai.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai juga dikenal dengan Samudera Darussalam atau Samudera Pasai. Ini merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Kata "pasai" adalah sinonim dari "pantai", asalnya pun sama. Sedangkan, samudera tidak lain ialah laut. Maka negara Pasai adalah negara yang berada di tepi laut. Jadi, sama saja dengan negara Samudera

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah. Namun, beberapa sejarawan mulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan Hikayat Raja-Raja Pasai, dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.

Berdasarkan Hikayat Raja-Raja Pasai, kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malikul Nasser. Marah Silu sebelumnya berada di suatu kawasan yang disebut Sumerlangga, kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malikus Saleh. Ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.

Kejayaan Samudera Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara, diawali dengan penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peurelak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Sultan Malikus Saleh adalah salah seorang keturunan kerajaan itu yang menaklukkan beberapa kerajaan kecil dan mendirikan Kerajaan Samudera pada tahun 1270 M

Pemerintahan Sultan Malikus Saleh dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malikul Zahir/Sultan Muhammad Malik al Tahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak, Putri Ganggang Sari. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malikul Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, selang dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam.

Sekitar tahun 1326, Sultan Malikul Zahir meninggal dunia, lalu digantikan oleh anaknya, Sultan Mahmud Malikul Zahir, dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibnu Batutah, yang menceritakan bahwa sultan di negeri Samtrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut madzhab Syafi'i.. Namun terjadi perisriwa penting di Kerajaan Samudera Pasai saat putra Sultan Malikul Saleh yang bernama Abdullah memisahkan diri ke daerah Aru (Barumun)

Samudera Pasai juga menerima serangan dari Kerajaan Siam. Selanjunya, pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malikul Zahir, putra Mahmud Malikul Zahir, datanglah serangan dari Majapahit tahun 1345 dan 1350, yang menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Namun tertolong oleh Laksamana Chengho. Kerajaan Samudera Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.

Berikut urutan Raja-Raja yang memerintah di Samudera Pasai:

  1. Tahun 1267-1297
    • Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Malikus Saleh atau Marah Silu. Ia merupakan sultan pertama yang memimpin Kerajaan Samudera Pasai.
  2. Tahun 1297-1326
    • Kerajaan Samudera Pasai di bawah pimpinan Sultan Muhammad Malikul Zahir, yang merupakan anak dari Sultan Malikus Saleh. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malikul Zahir, koin emas mulai diperkenalkan kepada masyarakat di Kerajaan Samudera Pasai.
  3. Tahun 1326-1345
    • Kerajaan Samudera Pasai pada masa ini dipimpin oleh Sultan Mahmud Malikul Zahir, yang merupakan anak dari Sultan Muhammad Malikul Zahir, sekaligus cucu dari Sultan Malikus Saleh.
  4. Tahun 1345-1383
    • Kerajaan Samudera Pasai pada masa ni berada di bawah pimpinan Sultan Ahmad Malikul Zahir. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Samudera Pasai diserang oleh Majapahit.
  5. Tahun 1383-1405
    • Kerajaan Samudera Pasai pada masa ini dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin Malikul Zahir.
  6. Tahun 1405-1412
    • Pada masa ini, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Sultanah Nahrasiyah, yang merupakan raja perempuan, sekaligus janda dari Sultan Kerajaan Samudera Pasai sebelumnya.
  7. Tahun 1405-1412
    • Pada masa ini, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Sallah ad-Din, yang menikahi Sultanah Nahrasiyah, pemimpin kerajaan Samudera Pasai sebelumnya.
  8. Tahun 1412-1455
    • Pada masa ini, Kerajaan Samudera Pasai dipmpin ole Sultan Abu Zaid Malikul Zahir, yang mengirim utusan ke Cina.
  9. Tahun 1455-1477
    • Kerajaan Samudera Pasai pada masa ini dipimpin oleh Sultan Mahmud Malikul Zahir II.