Showing posts with label Belajar dan Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Belajar dan Pembelajaran. Show all posts

Saturday, 30 September 2017

Teori-teori Belajar

  1. Teori Belajar Behaviorisme
  2. Teori Belajar Kognitivisme
  3. Teori Belajar Konstruktivisme

Jenis-jenis Belajar

Dalam proses belajar mengajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam. Jenis-jenis belajar antara lain sebagai berikut :
a. Belajar Abstrak
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.

b. Belajar Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan-latihan intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk belajar jenis ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik, dan juga sebagian materi pelajaran agama seperti ibadah shalat dan haji.

c. Belajar Sosial
Belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional. Bidang-bidang studi yang termasuk bahan pelajaran sosial antara lain pelajaran agama dan pendidikan moral.

d. Belajar Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah rasional, lugas, dan tuntas. Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan. Dalam hal ini hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana belajar pemecahan masalah. Untuk keperluan ini, guru (khususnya) yang mengajar eksakta, seperti matematika dan IPA sangat dianjurkan menggunakan model dan strategi mengajar yang berorientasi pada cara pemecahan masalah.

e. Belajar Rasional
Belajar rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat). Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragama kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini sangat erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, siswa diharapkan memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis. Bidang-bidang studi yang dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak memberi tekanan khusus pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang-bidang studi noneksakta pun dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional.

f. Belajar kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuan agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstekstual). Selain itu, arti tepat dan positif di atas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural.

g. Belajar apresiasi
Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill), yaitu kemampuan untuk menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya aspresiasi sastra, musik, dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi, antara lain bahasa dan sastra, prakarya, dan kesenian. Selain itu memungkinkan juga bidang studi agama digunakan sebagai alat pengembangan apresiasi siswa, misalnya seni baca tulis Al-qur'an.

h. Belajar pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen. Tujuan belajar pengetahuan ialah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan (Syah, 2002 : 124).

http://www.definisi-pengertian.com/2015/05/jenis-jenis-belajar.html

Komponen-komponen Belajar dan Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu sistem, artinya suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinterelasi dan berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun komponen-komponen tersebut adalah :


A. Tujuan Pendidikan dan Pembelajaran


Tujuan memiliki nilai yang sangat penting di dalam pengajaran, bahkan mungkin dapat dikatakan bahwa tujuan merupakan faktor yang terpenting dalam kegiatan dan proses belajar dan pembelajaran. Nilai-nilai tujuan dalam pembelajaran, diantaranya adalah :



  • Tujuan pendidikan mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan murid dalam proses pembelajaran. Dengan adanya tujuan maka semua usaha dan pemikiran guru tertuju kearah pencapaian tujuan tersebut.
  • Tujuan pendidikan memberikan motivasi kepada guru dan siswa. Tujuan yang baik akan mendorog kegiatan-kegiatan guru dan siswa.
  • Tujuan pendidikan memberikan pedoman dan petunjuk kepada guru dalam rangka memilih dan menentukan metode mengajar atau menyediakan lingkungan belajar bagi siswa
  • Tujuan pendidikan penting maknanya dalam rangka memilih dan menentukan alat peraga pendidikan yang akan digunakan
  • Tujuan pendidikan penting dalam menentukan alat/teknik penilaian guru terhadap hasil belajar siswa.
Tingkat-Tingkat Tujuan Pendidikan


Tujuan pedidikan dan pembelajaran dapat kita bagi menjadi lima tingkatan/jenjang sesuai dengan ruang lingkup dan sasaran yang hendak dicapai oleh tujuan itu. Tingkatan tujuan tersebut terdiri dari :
  1. Tujuan pendidikan nasional, merupakan tujuan umum dari sistem pendidikan nasional. Berisi tujuan jangka panjang dan sangat luas serta menjadi pedoman bagi semua kegiatan/usaha pendidikan di negara kita.
  2. Tujuan lembaga pendidikan, merupakan tujuan yang ditetapkan oleh masing-masing lembaga pendidikan dimana tujuan yang ditetapkan tersebut akan berbeda satu sama lain. Tujuan yang ditetapkan disesuaikan dengan kondisi, jenis dan tingkatan masing-masing lembaga tersebut.
  3. Tujuan kurikuler/kurikulum, tujuan yang ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku
  4. Tujuan mata pelajaran, tujuan yang ditetapkan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan
  5. Tujuan pembelajaran, merupakan tujuan yang bersifat operasioanl dan dirumuskan dalam rencana pembelajaran harian (lesson plan) 


B. Peserta Didik atau Siswa

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan Siswa
Guru yang efektif perlu memahami pertumbuhan dan perkembangan siswa secara komprehensif. Pemahaman ini akan memudahkan guru untuk menilai kebutuhan siswa dan merencanakan tujuan, bahan, prosedur belajar pembelajaran dengan tepat. Beberapa hal yang perlu diketahui/dipahami tentang peserta didik atau siswa, diataranya :
  1. Konsep dasar tentang perkembangan siswa, terdiri dari pertumbuhan, kematangan, kedewasaan, perkembangan dan perkembangan yang normal. Pertumbuhan adalah pertambahan secara kuantitatif dari substansi atau struktur yang umumnya ditandai dengan perubahan-perubanhan biologis pada diri seseorang menuju kearah kematangan. Kematangan adalah tingkat atau keadaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan seseorang. Kedewasaan (maturation) adalah kemjauan pertumbuhan yang normal ke arah kematangan.Proses maturasi disebabkan oleh faktor pertumbuhan dari dalam pada berbagai kapasitas adan struktur. Perkembangan menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseorang yakni perubahan dalam struktur, kapasitas, fungsi dan efisiensi. Perkembangan bersifat keseluruhan dan umumnya berjalan lambat.
  2. Prinsip-prinsip pertumbuhan dan perkembangan, 
    1. Belajar adalah mengalami
    2. Belajar menunjukkan adanya perubahan kelakuan atau sikap.
    3. Setiap siswa memiliki keunikan dalam pola perkembangannya
    4. Pengajaran yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan anak tidak akan berhasil baik.
    5. Pertumbuhan dalam diri seseorang berjalan secara kontinu
  3. Kebutuhan-kebutuhan peserta didik (siswa), Banyak ahli-ahli yang telah merumuskan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi oleh individu, diantaranya adalah: Prescott, menyatakan bahwa kebutuhan individu dibedakan menjadi tiga yaitu: kebutuhan fisiologis (melakukan kegiatan, istirahat, kegiatan seksual dll), kebutuhan sosial atau status (menerima dan diterima, menyukai orang lain) dan kebutuhan ego atau integratif (kontak dengan kenyataan, menemukan individualitas sendiri, menambah kematangan diri dll). Maslow menyatakan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi oleh individu, antara lain : kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan memiliki dan mencintai, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan untuk menonjolkan diri.
    1. Kebutuhan peserta didik dan fungsi sekolah, 
    2. Sekolah adalah suatu lembaga sosial yang berfungsi memenuhi/memuaskan kebutuhan-kebutuhan murid dalam hal pendidikannya. Dilain pihak murid-murid juga mengharapkan agar sekolah dapat memberikan kepuasan terhadap kebutuhan akan pendidikan bagi mereka.

    1. Mengenal Murid
    Apa dan siapa sebenarnya murid itu?. Murid adalah salah satu komponen dalam pengajaran, disamping faktor guru, tujuan dan metode pengajaran. Selain itu murid adalah unsur penentu dalam proses belajar mengajar, karena tanpa adanya murid sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran.

    a.      Pandangan tentang murid sebagai anak



    • Pandangan lama, menyebutkan bahwa anak adalah orang dewasa yang kecil. Karena itu segala seuatunya perlu dipersamakan seperti halnya orang dewasa.
    • Anak adalah sebagai anak. Anak tidak bisa dan tidak mengkin dipersamakan dengan orang dewasa. Ia memiliki ciri-cirinya tersendiri, perlakuan kepada anak tidak boleh dipersamakan dengan perlakuan kepada orang dewasa.
    • Anak adalah hidup di dalam masyarakat dan dipersiapkan untuk hidup di dalam masyarakatnya. Sebagai calon anggota masyarakat maka ia harus dipersiapkan sesuai dengan masyarakat setempat.


    b.      Murid adalah pribadi yang kompleks

    Anak adalah suatu organism yang hidup, yang mereaksi, berbuat dan sebagainya. Organism yang hidup memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan, intelek dan masalah-masalah tertentu. Ia tidak hanya tinggal diam akan tetapi bersikap aktif. Ia bersifat unik, memiliki bakat dan kematangan, berkat adanya pengaruh-pengaruhdari luar seperti, keluarga, masyarakat, status sosial ekonomi keluarga, tingkatan dan jenis pekerjaan orang tua, pengaruh-pengaruh dari kebudayaan dan sebagainya sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks

    c.       Tujuan mengenal murid

    Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan secara efektif. Penting sekali mengenal dan memahami murid dengan seksama, agar guru dapat menentukan dengan seksama bahan-bahan yang akan diberikan, menggunakan prosedur belajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.

    Hal-hal yang perlu dikenal tentang kepribadian murid dalam proses belajar mengajar



    1. Latar belakang masyarakat, kultur masyarakat dimana siswa tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap siswa. Kultur ini menyebabkan siswa memiliki sikap yang berbeda-beda tentang agama, politik, masyarakat dan cara bertingkah lakunya. Tiap masyarakat memberikan pengaruh yang berlainan terhadap siswa sehingga tiap siswa memiliki pribadinya sendiri-sendiri.
    2. Latar belakang keluarga, situasi di dalam keluarga besar pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian sosial, minat, sikap, tujuan, disiplin dan perbuatan siswa di sekolah.  Guru perlu mengenal situasi dan kondisi dalam keluarga siswa  agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang serasi.
    3. Tingkat inteligensi, hasil tes inteligensi dapat menjadi sumber yang menggambarkan tentang kemampuan belajar siswa. Tingkat inteligensi dapat digunakan untuk memperkirakan keberhasilan seorang siswa
    4. Hasil belajar, guru perlu mengenal hasil belajar dan kemajuan belajar siswa yang telah diperolehnya sebelumnya. Hal ini dapat membantu guru mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan belajar selanjutnya.
    5. Kesehatan badan, guru perlu mengetahui secara berkala tentang keadaan kesehatan dan pertumbuhan siswa. Keadaan kesehatan dan pertumbuhan ini besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian sosial mereka.
    6. Hubungan-hubungan antarpribadi, hubungan-hubungan pribadi saling aksi dan mereaksi, penerimaan oleh anggota kelompok, kerjasama dengan teman-teman sekelompok akan menentukan perasaan puas dan rasa aman disekolah. Hal-hal ini  berpengaruh pada  kelakuan dan motivasi belajarnya
    7. Kebutuhan-kebutuhan emosional, kebutuhan emosional seperti ingin diterima, berteman/bercinta, dan rasa aman sangat penting bagi siswa untuk dipenuhi. Apabila tidak terpenuhi maka akan menimbulkan frustasi dan gangguan mental lainnya.
    8. Sifat-sifat kepribadian, dengan mengenal sifat-sifat kepribadian murid maka akan memudahkan guru mengadakan pendekatan pribadi dengan mereka. Selain itu juga untuk menyediakan (merencanakan) kegiatan-kegiatan yang serasi dengan kepribadian mereka
    9. Bermacam-macam minat belajar, dengan mengenal minat-minat muridnya, akan memudahkan guru dalam memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman belajar, menuntun mereka ke arah pengetahuan dan untuk mendorong motivasi belajar siswa.

          C. Tenaga Kependidikan (Guru)

          Sebelum ia memulai tugasnya sebagai guru, ia harus mempelajari lebih dulu kurikulum sekolah itu dan memahami semua program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Pada hari pertama dan pada hari selanjutnya guru harus berusaha untuk mengenal tentang muridnya dan berkenalan dengan semua guru dan staf sekolah lainnya, selanjutnya ia akan melaksanakan program pendidikan disekolah. Setiap ia mengajar, ia perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan.

          1. Syarat-syarat menjadi Guru


          1. Harus memiliki bakat sebagai guru
          2. Harus memiliki keahlian sebagai guru
          3. Memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi
          4. Memiliki mental yang sehat
          5. Berbadan sehat
          6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas

          2. Peranan Guru



          Peranan guru sangat luas, antara lain:

          1. Guru sebagai pengajar, guru bertugas memberikan / menyampaikan pengajaran didalam sekolah (kelas) agar siswa memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan.
          2. Guru sebagai pembimbing, guru berkewajiban memberikan bantuan kepada siswa agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya, mengenal diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
          3. Guru sebagai ilmuwan, guru dipandang sebagai orang yang paling berpengetahuan. Ia tidak hanya berkewajiaban menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada murid tetapi juga mengembangkan pengetahuannya tersebut.
          4. Guru sebagai pemimpin, guru harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik. Jiwa kepemimpinan yang baik akan berpengaruh pada berhasil tidaknya ia dalam mengelola kelas.
          5. Guru sebagai penghubung, guru berperan sebagai penghubung antara sekolah dengan masyarakat
          6. Guru sebagai pembaharu, guru berusaha mengikuti pembaharuan-pembaharuan diberbagai bidang dan berusaha untuk menyampaikannya kepada siswa dan masyarakat
          7. Guru sebagai pembangun, guru baik sebagai pribadi maupun guru dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk membantu berhasilnya rencana pembangunan masyarakat.
          8. Guru sebagai pribadi, setiap guru memiliki sifat-sifat pribadi yang disenangi oleh siswanya. Oleh sebab itu ia harus memupuk sifat-sifat positif yang ada pada pribadinya.
          3. Tanggung Jawab Guru

          1. Guru harus menuntut murid-murid belajar
          2. Turut serta membina kurikulum sekolah
          3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmani)
          4. Memberikan bimbingan kepada murid
          5. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar
          6. Menyelenggarakan penelitian
          7. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
          8. Menghayati, mengamalkan dan mengamankan pancasila
          9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia
          10. Turut menyukseskan pembangunan
          11. Tanggung jawab meningkatkan peranan professional guru.
          Tanggung jawab guru yang terpenting adalah merencanakan dan menuntut murid-murid melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru juga merupakan seorang key personyang paling mengetahui tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan murid. Karena itu guru harus turut aktif dalam pembinaan kurikulum disekolah.

          D. Perencanaan Pembelajaran



          Guru yang baik akan berusaha sedapat mungkin agar pengajarannya berhasil. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu adalah guru tersebut senantiasa membuat perencanaan mengajar sebelumnya.

          Fungsi perencanaan pembelajaran, antara lain:

          1. Memberi pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu
          2. Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujauan
          3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan
          4. Membantu guru dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat, dan motivasi belajar siswa
          5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error dalam mengajar
          6. Murid-murid akan menghormati guru-guru yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar
          7. Memberikan kesempatan bagi guru untuk memajukan pribadinya dan mengembangkan profesinya
          8. Membantu guru memiliki rasa percaya diri pada diri sendiri dan jaminan atas dirinya
          9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang up to date kepada murid

          E. Strategi dan Metode Pembelajaran



          Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh guru dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk dapat mengajar dengan baik seorang guru harus menguasai metode mengajar yang baik pula. Lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar, yaitu:

          1. Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya
          2. Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya
          3. Situasi berlainan keadaannya
          4. Fasilitas bervariasi secara kualitas dan kuantitasnya
          5. Kepribadian dan kompetensi guru yang berbeda-beda.

          F. Media Pembelajaran



          Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Dalam belajar pembelajaran media pembelajaran mempunyai fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan. Melalui media pengajaran yang tepat, diharapkan guru dapat memberikan pengalaman belajar yang banyak dengan cara yang sedikit.

          Dwyer (dalam Sutikno, 2009) berpendapat bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika menggunakan bahan-bahan audio-visual yang mendekati realitas. Sebagai media dalam pendidikan dan pengajaran, maka alat audio-visual harus mempunyai sifat sebagai berikut:

          1. Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
          2. Kemampuan untuk meningkatkan kemampuan
          3. Kemampuan untuk meningkatkan transfer belajar
          4. Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcement)
          5. Kemampuan untuk meningkatkan ingatan.

          G. Evaluasi Pembelajaran

          Evalusai pengajaran merupakan suatu komponen dalam sistem pengajaran. Fungsi-fungsi pokok evaluasi antara lain:
          1. Fungsi edukatif, berfungsi untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan sistem dan/atau salah satu subsistem pendidikan.
          2. Fungsi institusional, berfungsi untuk mengumpulkan informasi akurat tentang input dan output pembelajaran disamping proses pembelajaran itu sendiri. Mengetahui sejauh mana kemajuan siswa dalam proses belajar setelah mengikuti pembelajaran
          3. Fungsi diagnostic, berfungsi untuk mengetahui kesulitan masalah-masalah  yang sedang dihadapi oleh siswa dalam proses/kegiatan belajarnya.
          4. Fungsi administratif, berfungsi untuk mengetahui tingkat kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
          5. Fungsi kurikuler, berfungsi menyediakan data dan informasi yang akurat dan berdaya guna bagi pengembangan kurikulum
          6. Fungsi manajemen, berfungsi sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan untuk membuat keputusan manajemen pada semua jenjang manajemen
          Daftar Pustaka
          https://asrofulkhadafi.wordpress.com/2012/04/22/kompenen-komponen-belajar-dan-pembelajaran/

          Pengertian Belajar dan Pembelajaran (2)

          Pengertian Belajar

          Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan.

          Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.

          Menurut Vernon S. Gerlach & Donal P. Ely dalam bukunya teaching & Media-A systematic Approach (1971) dalam Arsyad (2011: 3) mengemukakan bahwa “belajar adalah perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati”.

          Sedangkan Menurut Gagne dalam Whandi (2007) belajar di definisikan sebagai “suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman”. Slameto (2003: 5) menyatakan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. 

          Lebih lanjut Abdillah (2002) dalam Aunurrahman (2010 :35) menyimpulkan bahwa “belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu”.

          Dengan demikian dapat disimpulkan Belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.

          Pengertian Pembelajaran 


          Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar, di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai sasaran pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai komponen lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran. 

          Darsono (2002: 24-25) secara umum menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai “suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik”. Sedangkan secara khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut : 


          • Teori Behavioristik, mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan).
          • Teori Kognitif, menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.
          • Teori Gestalt, menguraikan bahwa pembelajaran merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
          • Teori Humanistik, menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
          Arikunto (1993: 12) mengemukakan “pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar”. Lebih lanjut Arikunto (1993: 4) mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah bantuan pendidikan kepada anak didik agar mencapai kedewasaan di bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap”. 

          Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

          Dari berbagai pendapat pengertian pembelajaran di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada suatu lingkungan belajar.

          Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media.

          Demikian pula kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif sedang siswa pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah, maka hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut keaktifan guru dan siswa.

          Referensi
          http://ichaledutech.blogspot.co.id/2013/03/pengertian-belajar-pengertian.html
          Arsyad, A. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
          Arikunto, Suharsimi. (1993). Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
          Aunurrahman. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit AlfabetaSlameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
          Wandi, (2007). Pengertian Belajar Menurut Ahli. (Online).http://www.whandi.net/2007/05/16/pengertian-belajar-menurut-ahli. Diakses 21 Oktober 2012

          Saturday, 8 April 2017

          Pengertian Belajar dan Pembelajaran

          Pengertian Belajar

          Belajar, hemat saya adalah cara pengaktualisasi jati diri yang terjadi dengan penyesuaian tingkah laku agar dapat mengembangkan kemampuan, (kognitif, afektif dan psikomotor), minat dan bakat.

          Benyamin S. Bloom (1956) mengemukakan perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.
          • Cognitive Domain (Kawasan Kognitif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bias diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:
              • ·        Pengetahuan (Knowledge).
              • ·        Pemahaman (Comprehension).
              • ·        Penerapan (Aplication)
              • ·        Penguraian (Analysis).
              • ·        Memadukan (Synthesis).
              • ·        Penilaian (Evaluation).

          •  Affective Domain (Kawasan afektif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:
              • ·        Penerimaan (receiving/attending)
              • ·        Sambutan (responding)
              • ·        Penilaian (valuing).
              • ·        Pengorganisasian (organization).
              • ·        Karakterisasi (characterization)


          •  Psychomotor Domain (Kawasan psikomotorik). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:
              • ·        Kesiapan (set)
              • ·        Meniru (imitation)
              • ·        Membiasakan (habitual)
              • ·        Adaptasi (adaption)


          Pengertian Pembelajaran

          Secara umum pengertian pembelajaran adalah upaya yang dilakukan untuk membantu seseorang atau sekelompok orang sedemikian rupa dengan maksud supaya di samping tercipta proses belajar juga sekaligus supaya proses belajar menjadi lebih efesien dan efektif. Itulah sebabnya Darsono, (2000: 24) mengemukakan bahwa pengertian pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik. Adapun pengertian pembelajaran menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar.



          Daftar Pustaka 
          http://ainamulyana.blogspot.com/2016/06/pengertian-belajar-dan-pengertian.html