Sunday 5 June 2016

Kerajaan Kediri

Meskipun Airlangga telah membagi kerajaannya menjadi dua, perang saudara antara kedua putranya tetap terjadi. Menurut prasasti Turun Hyang B (1045), Mapanji Garasakan (Raja Jenggala) mengadakan srangan terhadap Samarawijaya (Panjalu). Garasaka menggunakan cap kerajaan garudamukha seperti yang dipakai oleh Airlangga untuk menunjukkan dirinya sebagai putra Airlangga

Pada tahun 1052, terjadi peperangan untuk memperebutkan kekuasaan di antara kedua belah pihak. Panji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya, sehingga Panji Garasakan yang berkuasa atas wilayah itu. Di Jenggala kemudian berkuasa raja-raja pengganti Panji Garasakan. Pada tahun 1059, raja yang berkuasa di Jenggala adalah Samarotsaha. Sayangnya setelah itu tidak terdengar berita mengenai Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Baru pada tahun 1104, tampil Kerajaan Panjalu dengan raja Jayawangsa. Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri dengan beribu kota di Daha.

Pada tahun 1117, Bameswara tampil sebagai Raja Kediri. Pengganti Bameswara adalah Jawayaba (1135-1159) yang merupakan raja terbesar dan termashyur dari Kerajaan Kediri. Lencana kerajaannya disebut narasingha. Nama Jayabaya terdapat daam kitab Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Setelah Jayabaya, raja yang memerinta Kerajaan antara lain adalah Sarewswara (1159-1169), Sri Ayeswara (1169-1171), Sri Gandra (1181-1182), Kameswara (1182-?) dan Kertajaya (1185-1222).

Peninggalan Kerajaan Kediri adalah Prasasti Hantang atau Ngantang (1135), Talan (1136), dan Prasasti Desa Jepun (1144). Ketiga prasasti ini merupakan peninggalan dari masa Raja Bameswara, di mana prasasti Hantang memuat tulisan panjalu jayati, artinya panjalu menang.

Pada masa pemerintahan Sri Kameswara (1182-1185), ditulis kakawin Smaradahana oleh Mpu Darmaja. Kakawin tersebut berisi puji-pujian terhadap raja yang menyatakan bahwa raja adalah tulisan Dewa Kamajaya sedangkan istrinya merupakan titisan dari Dewi Ratih. Kemudian karya sastra lain yang muncul adalah Kitab Lubdaka karangan Mpu Tin Akung.

Raja terakhir adalah Srengga atau Kertajaya atau Dandang Gendis (1185-1222) yang dikenal sebagai raja yang kejam. Pada masa pemerintahannya terjadi pertentangan antara raja dan para pendeta atau kaum brahmana. Pertentangan ini terjadi karena Kertajaya berlaku sombong dan berani melanggar adat. Hal ini memperlemah pemerintahan di Kediri. Para brahmana kemudian mencari perlinungan kepada Ken Arok yang merupakan penguasa di Tumapel.


Pada akhir pemerintahan Raja Airlangga, wilayah kekuasaannya dibagi dua, untuk menghindari terjadinya perang saudara. Maka muncullah Kerajaan Kediri dengan ibukota Daha, diperintah Oleh Jayawarsa dan Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan, yang diperintaholeh Jayengrana. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya Kerajaan Kediri mencapai kemajuan lebih pesat dar Kerajaan Jenggala.

Pada awalnya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri meliputi Madiun dan daerah bagian barat Kerajaan Medang Kamulan. Ibukota Kerajaan Kediri yaitu Daha terletak di tepi sungai Brantas. Melalui pelabuhan Canggu, aktivitas perekonomian rakyat sangat lancar sehingga mendatangkan kemakmuran. Wilayah pengaruh Kerajaan Kediri kemudian berkembang mencakup wilayah Indonesia Timur. Wilayah pemerintahan ini sama seperti pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa.

Sumber Sejarah
Sumber sejarah Kerajaan Kediri berasal dari beberapa prasasti dan berita asing sebagai berikut:
Prasasti
  • Prasasti Sirah Keting (1104 M) yang memuat tentang pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Raja Jayawarsa.
  • Prasasti yang ditemukan di Tulungagung dan Kertosono berisi masalah keagamaan, diperkirakan berasal dari Raja Bamewswara (1117-1130 M)
  • Prasasti Ngantang (1135 M), yang menyebutkan tentang Raja Jayabaya yang memberikan hadiah kepada rakyat Desa Ngantang sebidang tanah yang bebas dari pajak
  • Prasasti Jaring (1181 M) dari Raja Gandra yang memuat tentang sejumlah nama-nama hewan seperti Kebo Waraga dan Tikus Jinada
  • Prasasti Kamulan (1194 M), yang menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, Kerajaan Kediri telah berhasil mengalahkan musuh yang telah memusuhi istana di Katang-Katang
Berita Asing
Berita asing tentang Kerajaan Kediri sebagian besar diperoleh dari berita Cina yang merupakan kumpulan cerita dari para pedagang Cina yang melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Kediri. Seperti Kronik CIna bernama Chu fan Chi karangan Chu fu kua (1220 M). Buku ini banyak mengambil cerita dari buku Ling wai tai ta (1778 M) karengan Chu ik fei. Kedua buku ini menerangkan keadaan Kerajaan Kediri pada abad ke-12 dan ke-13 M.

Aspek Kehidupan Politik
Masa Kejayaan Kediri dapat dikatakan jelas, terbukti dengan ditemukannya silsilah raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri. Di samping itu, ditemukan prasasti-prasasti dari raja-raja yang pernah memerintah. Raja-raja tersebut di antaranya sebagai berikut.
  1. Raja Jayawarsa
  2. Raja Bameswara
  3. Raja Jayabaya
  4. Raja Sameswara dan Raja Ayeswara
  5. Raja Gandra
  6. Raja Kameswara
  7. Raja Kertajaya
Kehidupan Budaya
Pada zaman kekuasaan Kerajaan Kediri, kebudayaan berkembang pesat, terutama dalam bidang sastra. Hasil-hasil sastra pada zaman Kerajaan Kediri di antaranya:
  1. Krisnayana, diperkirakan berasal dari zmaan pemerintahan Raja Jayawarsa
  2. Bharatayudha, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh
  3. Arjuna Wiwaha dikarang leh Emu Kanwa
  4. Hariwangsa, dikarnng oleh Empu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Jayabaya
  5. Bhomakavya, pengarangnya tidak jelas
  6. Smaradhana, dikarang oleh Empu Dharmaja pada masa pemerintahan Raja Kameswara
  7. Writtasancaya dan Lubdhaka, dikarang oleh Empu Tanakung

No comments:

Post a Comment