Friday 27 May 2016

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno berdiri sekitar abad VIII dan diperkirakan berpusat di Jawa Tengah dengan daerah pusatnya disebut Bhumi Mataram. Mengenai letak Kerajaan Mataram Kuno, ada ahli yang berpendapat di Medang dan Poh Pitu. Letak Poh Pitu sampai sekarang juga belum jelas. Hanya dijelaskan bahwa letak Mataram dikelilingi pegunungan, gunung dan sungai-sungai. Menunjuk berbagai keterangan geografis di atas, sangat mungkin Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro merupakan pegunungan di sebelah utara kerajaan, di sebelah barat terdapat Pegunungan Serayu, di sebelah timur terdapat Gunung Lawu, serta di sebelah selatan berdekatan dengan Laut Selatan dan Pegunungan Seribu. Sungai-sungai yang ada, misalnya Sungai Bogowonto, Elo, Progo, Opak dan Bengawan Solo. Sedangkan letak Poh Pitu mungkin di antara Kedu sampai sekiar Prambanan.


Sumber Sejarah

  • ·         Prasasti Canggal (654 S/732 M).
Prasasti ini ditemukan di Gunung Wukir, Kecamatan Salam, Magelang yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Isi dari prasasti Canggal terdiri dari 12 bait

  1. Bait 1                     : Raja Sriwijaya mendirikan lingga di atas bukit (6 Oktober 732 M)
  2. Bait 2-4                 : pujian kepada Siwa
  3. Bait 5                     : pujian kepada Brahmana
  4. Bait 6                     : pujian kepada Wisnu
  5. Bait 7                     : pujian kepada Pulau Jawa yang subur
  6. Bait 8-9                 : mengenai pemerintahan Sanna
  7. Bait 10-12            : mengenai penganut Sanna, yaitu Sanjaya
  •  ·         Prasasti Kalasan (700 S/778 M)
Prasasti ini berhuruf Pranagari dan berbahasa Sanskerta. Menerangkan bahwa para guru sang raja, Sailendrawamsatilaka telah berhasil membujuk Maharaja Tejahpurnaparna Panangkaran (atau Rakai Panangkaran pengganti Raja Sanjaya) untuk mendirikan bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para  pendeta dalam kerajaan keluarga Syailendra

  • ·         Prasasti Klurak (704 S/782 M)
Ditemukan di daerah Prambanan. Isinya tentang pembuatan arca Manjusri yang terletak di sebelah utara Prambanan. Raja yang memerintah waktu tu adalah Indra (mungkin sama dengan Raja Panangkaran).

  • ·         Prasasti Kedu atau Prasasti Balitung (829 S/907 M)
Prasasti ini berisi tentang silsilah raja-raja keturunan Sanjaya. Prasasti Balitung memuat daftar para raja Wangsa Sanjaya, seperti Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggulan, Sri Maharaja Rakai Warak, Sri Maharaja Rakai Garung, Sri Maharaja Rakai Pikatan, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodya Mahasambhu.

Pemerintahan Sanjaya

Pemerintahan Sanjaya beragama Hindu yang memerintah di bagian utara Jawa Tengah. Sebelum Sanjaya menjadi raja di Mataram Kuno, Jawa Tengah sudah berkuasa seorang raja bernama Sanna. Menurut prasasti Canggal, Raja Sanna adalah putra Sanaha, saudara perempuan dari Sanna.

Sanjaya memerintah Mataram Kuno pada tahun 717-780 dan melakukan penaklukan terhadap raja-raja kecil bekas bawahan Sanna yang melepaskan diri. Pada tahun 732, Raja Sanjaya mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan. Bangunan ini berupa lingga dan berada di Gunung Wukir (Bukit Stirangga). Bangunan suci itu merupakan lambang keberhasilan Sanjaya dalam menaklukkan raja-raja lain.

Pemerintahan Rakai Panangkaran

 Pengganti Sanjaya adalah putranya yang bernama Rakai Panangkaran yang memberikan perhatian terhadap perkembangan agama Buddha. Dalam prasasti Kalasan (778). Raja Panangkaran telah memberikan hadiah tanah dan memerintahkan pembangunan sebuah candi untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha. Tanah dan bangunan tersebut terletak di Kalasan.

Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa Raja Panangkaran disebut dengan Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Kata Syailendra menegaskan bahwa Panangkaran termasuk keturunan Keluarga Syailendra. Begitu juga Raja Sanjaya dan Sanna. Jika demikian dinasti Syailendra adalah Sanna dan Sanjaya beserta keturunannya. Hanya waktu itu Sanna dan Sanjaya memeluk agama Hindu, sedangkan Panangkaran mulai memeluk agama Buddha. Raja Panangkaran kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke arah timur.

Perpecahan Dinasti Syailendra

Setelah kekuasaan Panangkara berakhir, timbul persoalan karena adanya perpecahan antara anggota keluarga yang sudah memeluk agama Buddha dengan keluarga yang masih memeluk agama Hindu (Syiwa). Satu cabang pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang menganut agama Hindu dan berkuasa di daerah Jawa Tengah bagian utara. Cabang keluarga yang lain terdiri atas tokoh-tokoh yang beragama Buddha dan berkuasa di daerah Jawa Tengah bagian selatan. Perpecahan dalam keluarga Syailendra akhirnya disatukan kembali melalui perkawinan antara Rakai Pikatan (Hindu) dengan Pramodawardhani putri dari Samaratungga (Buddha) pada tahun 832. Dari perkawinan tersebut, dinasti Syailendra akhirnya bersatu kembali di bawah pemerintahan Rakai Pikatan.

Namun, bersatunya kedua golongan wangsa Syailendra mendapat hambatan dari Balaputradewa yang merupakan anak dari Samaratungga dengan Dewi Tara. Balaputradewa menentang Pikatan sehingga terjadilah perang perebutan kekuasaan. Dalam perang tersebut, Balaputradewa membuat benteng pertahanan di perbuktan sebelah selatan Prambanan. Benteng ini sekarang kita kenal dengan Candi Boko. Keterangan tersebut dapat dilihat dari prasasti Ratu Boko (tahun 856). Dalam pertempuran melawan Rakai Pikatan, akhirnya Balaputradewa terdesak dan melarikan diri ke Sumatera. Balaputradewa kemudian menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Selain mampu menyatukan kedua keluarga, perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramordawardhani juga menciptakan toleransi beragama yang baik. Pramordawardhani meneruskan pendirian kompleks Candi Plaosan yang bercorak Buddha dan Rakai Pikatan menghidupkan Hindu serta memulai pembangunan Candi Prambanan.

Raja yang terbesar dari wangsa Syailendra adalah Raja Balitung. Ia memerintah pada tahun 898-911 dengan gelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmadya Mahasambu. Hasil karya dalam masa pemerintahannya adalah dibangunnya Candi Prambanan sebagai candi yang anggun dan megah. Sesudah Raja Dyah Balitung memerintah, masih ada beberapa nama lagi seperti Daksa, Tulodong dan Wawa. Raja Wawa memerintah tahun 921-927 dan digantikan Mpu Sindok. Mpu Sindok adalah menantu Wawa yang memeindahkan kerajaan ke Jawa Timur. Di daerah baru tersebut, Mpu Sindok mendirikan dinasti Isyana pada tahun 928.

No comments:

Post a Comment