Sunday 22 November 2020

Geografi dan Kartografi Islam abad Pertengahan

Kartografi dan Geografi Islam abad Pertengahan mengacu pada studi geografi dan kartokgrafi di dalam Dunia Islam selama Masa Islam Keemasan (di antara abad ke-8 hingga abad 16). Ilmuwan Islam membuat tradisi pembuatan peta yang maju pada awal budaya, sebagian geografer Hellenistic seperti Ptolemy dan Marinus of Tyra mengombinasikan dengan apa yang disebut penjelajah dan saudagar pelajari dalam perjalanan lintas dunia Afrika dan Eurasia. Pakar geografi islam memiliki tiga bidang utama yakni, eksplorasi dan navigasi, geografi fisik, kartografi dan matematika geografi. Geografi Islam mencapai puncaknya pada zaman Muhammad al-Idrisi di abad 12.

Sejarah


Geografi Islam dimulai pada abad ke-8, merombak geografi Hellenistik, dan mengombinasikan dengan apa yang ditemukan penjelajah dan saudagar pelajari selama perjalanannya lintas benua Afrika dan Eurasia. Ilmuwan Islam terlibat dalam eksplorasi  ekstensif dan navigasi selama abad ke-9-12, termasuk perjalanan lintas dunia muslim, termasuk di antaranya China, Asia Tenggara, dan Afrika Selatan. Berbagai ilmuwan Islam berkontribusi untuk pengembangan geografi dan kartografi, termasuk di antaranya Al-Khawarizmi, Abu Zaid al Balkhi (pendiri sekolah Balkhi), Al-Masudi, Abu Rayhan Biruni dan Muhammad al-Idrisi

Geografi Islam dikembangkan dan dijaga pada zaman Kekhalifan Abbasiyah di Baghdad. Pengaruh penting perkembangan kartografi terjadi pada masa Al-Maimun, yang memerintah dari tahun 813-833. Ia membiayai sejumlah ilmuwan geografi untuk mengukur ulang jarak bumi yang sesuai dengan satu derajat meridian langit. Pembiayaan ini menghasilkan perbaikan definisi jarak yang digunakan oleh Arab dalam satuan mil sebagai perbandingan dengan penggunaan stadion pada dunia Hellenistik. Usaha ini juga memungkin Muslim untuk menghitung keliling bumi. Al Mamun juga memerintahkan produksi pembuatan peta besar bumi yang telah hilang, meskipun sudah diketahui peta ini didasarkan pada tipe proyeksi Marinus of Tyre ketimbang Ptolemi.

Kartografi Islam mewarisi Ilmu Almagest Ptolemy dan Geografi di abad 9. Hasil karya ini merangsang sebuah ketertarikan geografi bagi wartawan. Ahli peta Arab dan Persia mengikuti Al Khawarizmi dalam mengadopsi proyeksi rektangular, menggeser Meridian Utama Ptolemeus beberapa derajat ke timur, dan mengubah banyak koordinat geografis Ptolemeus.

Setelah menerima tulisan Yunani secara langsung dan tanpa perantara Latin, ahli geografi Arab dan Persia tidak menggunakan peta T-O.

Pada abad ke-9, Matematikawan Persia dan ahli geografi, Habash al Hasib al-Marwazi, memakai metode spherical trigonometry dan proyeksi peta supaya dapat mengubah koordinat polar ke dalam sistem koordinat lain yanng berpusat pada titik bola tertentu, dalam hal ini Kiblat. Abu Rayhan Biruni (973-1048) nantinya mengembangkan gagasan dimana dapat ditinjau sebuah antisipasi dalam polar coordinate system. Sekitar abad 1025, ia menjabarkan sebuah polar-equi-azimuthal equidistant projection dari celestial sphere. Meskipun begitu, jenis proyeksi ini sudah lama dipakai sejak pemetaan Perbintangan Mesir kuno dan tidak sepenuhnya dikembangkan sampai abad 15-16.

Pada awal abad ke-10, Abu Zayd al-Balkhi, yang berasal dari Balkh, mendirikan sekolah Balkhi pemetaan Terrestrial di Baghdad. Ahli geografi dari sekolah ini juga menulis secara ekstensif, masyarakat, produk dan hasil karya, kebiasaan dan kebudayaan pada wilayah dunia Muslim, dengan sedikit ketertarikan pada dunia non-muslim. Sekolah Balkhi yang melingkupi ahli geografi seperti Estakhri, al Muqaddasi, Ibnu Hawqal, memproduksi atlas, yang menampilkan peta dunia serta peta regional 20 wilayah.

Suhrab, geografer abad akhir 10 Masehi, menyertakan dalam bukunya sebuah koordinat dengan instruksi pembuatan peta dunia rektangular, dengan proyeksi equirectangular atau proyeksi equidistant cylindrical. Peta koordinat rektngular terdahulu yang masih bertahan sejak abad 13 M dibuat oleh Hamdallah al-Mustaqfi al-Qazwini, yang mendasarkan karyanya di Suhrab. Garis parallel orthogonal dipisahkan dengan satu derajat interval, dan peta ini terbatas hanya untuk Asia Tenggara dan Asia Tengah. Peta Dunia terdahulu yang masih bertahan yakni peta al Mustawfi pada abad 14-15 Masehi (yang menggunakan interval 10 derajat dari garis) dan peta Hafiz-i Abru (meninggal 1430)
Pada abad ke-11, cendekiawan Turki Karakhanid Mahmud al-Kashgari adalah orang pertama yang menggambar peta dunia Islam yang unik, di mana dia menandai kota-kota dan tempat-tempat penduduk Turki di Asia Tengah dan Dalam. Dia menunjukkan danau Issyk-Kul (sekarang Kyrgyzstan) sebagai pusat dunia.

Ibn Battuta (1304–1368?) Menulis "Rihlah" (Perjalanan) berdasarkan tiga dekade perjalanan, mencakup lebih dari 120.000 km melalui Afrika utara, Eropa selatan, dan sebagian besar Asia.
Para astronom dan ahli geografi Muslim menyadari deklinasi magnetik pada abad ke-15, ketika astronom Mesir 'Abd al-'Aziz al-Wafa'i (wafat 1469/1471) mengukurnya sebagai 7 derajat dari Kairo. 

Kartografi Regional
Kartografi Regional Islami biasanya dikelompokkan dalam 3 kelompok, berdasarkan klasifikasi dari sekolah Balkhi, tipe ini dipecah dalam 3 kelompok oleh Muhammad al-Idrisi, dan tipikal ini dirangkum dalam Book of Curiousities.

Peta yang dibuat sekolah Balkhi didefinisikan secara politik, bukan batasan longitudinal dan dilindungi oleh para Muslim. Di dalam peta ini, jarak antara berbagai perberhentian seperti kota atau danau dibuatkan suatu persamaan. Satu-satunya bentuk yang digunakan dalam desain ini adalah vertikal, horizontal, 90-degree angles, dan arcs of circles, dan juga unnecessary geographical details. Pendekatan ini serupa dengan yang digunakan dalam subway maps, London Underground Tub Map pada tahun 1931 oleh Harry Beck.

Al Idrisi juga mendefinisikan peta ini dalam berbagai variasi. Ia cenderung lebih menganggap luas dunia yang diketahui 160 ° dan harus melambangkan 50 anjing dalam bujur dan membagi wilayah itu menjadi sepuluh bagian, masing-masing lebarnya 16 °. Dalam hal garis lintang, ia membagi dunia yang diketahui menjadi tujuh 'iklim', ditentukan oleh panjang hari terpanjang. Dalam petanya, banyak fitur geografis yang dominan dapat ditemukan.

Buku Kenampakan Alam Bumi
Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi dalam kitabnya Kitab surat al-Ard (833 M)(Buku kenampakan alam Bumi). Buku ini merevisi dan melengkapi versi Ptolemy Geografi yang terdiri dari 2402 daftar koordinat peta dan berbagai fitur geografi lain diikuti sebuah introduksi umum.

Al-Khwārizmī, Al-Ma'mun's most famous geographer, corrected Ptolemy's gross overestimate for the length of the Mediterranean Sea[2]:188 (from the Canary Islands to the eastern shores of the Mediterranean); Ptolemy overestimated it at 63 degrees of longitude, while al-Khwarizmi almost correctly estimated it at nearly 50 degrees of longitude. Al-Ma'mun's geographers "also depicted the Atlantic and Indian Oceans as open bodies of water, not land-locked seas as Ptolemy had done. "[14] Al-Khwarizmi thus set the Prime Meridian of the Old World at the eastern shore of the Mediterranean, 10–13 degrees to the east of Alexandria (the prime meridian previously set by Ptolemy) and 70 degrees to the west of Baghdad. Most medieval Muslim geographers continued to use al-Khwarizmi's prime meridian.[2]:188 Other prime meridians used were set by Abū Muhammad al-Hasan al-Hamdānī and Habash al-Hasib al-Marwazi at Ujjain, a centre of Indian astronomy, and by another anonymous writer at Basra.[


Al Biruni
Abu Rayhan al-Biruni (973-1048) merancang metode yang tidak diketahui dalam menentukan radius bumi dengan mengobservasi tingginya sebuah gunung. Ia melakukan percobaannya di Nandana, Pind Dadan Khan (Pakistan hari ini). Ia menggunakan trigonometri untuk menghitung radius bumi menggunakan pengukuran tinggi sebuah bukit dan perhitungan dari kemiringan di cakrawala dari puncak bukit itu. His calculated radius for the Earth of 3928.77 miles was 2% higher than the actual mean radius of 3847.80 miles.[16] His estimate was given as 12,803,337 cubits, so the accuracy of his estimate compared to the modern value depends on what conversion is used for cubits. The exact length of a cubit is not clear; with an 18 inch cubit his estimate would be 3,600 miles, whereas with a 22 inch cubit his estimate would be 4,200 miles.[17] One significant problem with this approach is that Al-Biruni was not aware of atmospheric refraction and made no allowance for it. He used a dip angle of 34 arc minutes in his calculations, but refraction can typically alter the measured dip angle by about 1/6, making his calculation only accurate to within about 20% of the true value.

Dalam bukunya Codex Masudicus (1037), Al Biruni membuat teori keberadaan dataran di antara Samudera di Asia dan Eropa, atau apa yang kita sebut Amerika. Ia berargumen tentang keberadaan dataran ini dengan mendasarkan estimasi akurat dari keliling bumi dan ukuran luas gabungan Afro-Eurasia, dimana ia menemukan hanya mencakup dua per lima dari keliling bumi, dengan alasan bahwa proses geologi yang memunculkan Eurasia pasti telah melahirkan daratan di lautan luas antara Asia dan Eropa. Dia juga berteori bahwa setidaknya beberapa daratan yang tidak diketahui akan berada dalam garis lintang yang diketahui yang dapat dihuni manusia, dan karenanya akan dihuni.

Tabula Rogeriana
Grafolog Arab, Muhammad al-Idrisi, menghasilkan atlasnya, Tabula Rogeriana atau The Recreation for Him Who Wishes to Travel Through the Countries pada 1154. Dia menggabungkan pengetahuan tentang Afrika, Samudra Hindia, dan Timur Jauh yang dikumpulkan oleh pedagang dan penjelajah Arab dengan informasi yang diwarisi dari ahli geografi klasik untuk membuat peta dunia yang paling akurat di zaman pra-modern. [20] Dengan dana dari Roger II dari Sisilia (1097–1154), al-Idrisi memanfaatkan pengetahuan yang dikumpulkan di Universitas Cordoba dan membayar juru gambar untuk melakukan perjalanan dan memetakan rute mereka. Buku tersebut menggambarkan bumi sebagai sebuah bola dengan keliling 22.900 mil (36.900 km) tetapi memetakannya dalam 70 bagian persegi panjang. Fitur penting termasuk sumber ganda yang benar dari Sungai Nil, pantai Ghana dan menyebutkan Norwegia. Zona iklim adalah prinsip organisasi utama. Salinan kedua dan yang disingkat dari tahun 1192 disebut Taman Kegembiraan yang dikenal oleh para sarjana sebagai Idrisi Kecil. [21]

Tentang karya al-Idrisi, S. P. Scott berkomentar:

Kompilasi Edrisi menandai sebuah era dalam sejarah sains. Tidak hanya informasi sejarahnya yang paling menarik dan berharga, tetapi penjelasannya tentang banyak bagian bumi masih memiliki kepemilikannya masing-masing. Selama tiga abad para ahli geografi menyalin petanya tanpa perubahan. Posisi relatif danau-danau yang membentuk Sungai Nil, sebagaimana digambarkan dalam karyanya, tidak jauh berbeda dari yang ditetapkan oleh Baker dan Stanley lebih dari tujuh ratus tahun kemudian, dan jumlahnya sama. Kejeniusan mekanis penulis tidak kalah dengan pengetahuannya. Planet langit dan bumi dari perak yang dia bangun untuk pelindung kerajaannya berdiameter hampir enam kaki, dan beratnya empat ratus lima puluh pound; di satu sisi zodiak dan konstelasi, di sisi lain — untuk kenyamanan dibagi menjadi beberapa segmen — badan tanah dan air, dengan situasi masing-masing dari berbagai negara, diukir.
- S. P. Scott, Sejarah Kerajaan Moor di Eropa

Atlas Al-Idrisi, awalnya disebut Nuzhat dalam bahasa Arab, berfungsi sebagai alat utama bagi pembuat peta Italia, Belanda, dan Prancis dari abad ke-16 hingga abad ke-18.

Peta Piri Reis
Peta Piri Reis adalah kompilasi peta dunia (1513) yang dibuat oleh jenderal Kekhalifan Utsmaniyah dan Kartografer Piri Reis. Kira-kira satu dari tiga peta ini masih bertahan. Peta ini menunjukkan garis pantai wilayah barat Eropa dan Afrika Utara, dan garis pantai Brazil yang akurat. Berbagai kepulauan Atlantik, termasuk Azores dan Kepulauan Canary digambarkan sebagai kepulauan Mistis

Instrumen
Ilmuwan muslim menemukan dan menghaluskan sejumlah instrumen saintifik dalam matematika geografi dan kartografi. Termasuk di antaranya 

  1. astrolabe,

  2. quadrant,

  3. gnomon,

  4. celestial sphere,

  5. sundial

  6. compass.


Astrolab
Astrolab diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut di dunia Islam abad pertengahan, di mana astronom Muslim memperkenalkan desain sudut skala,  dengan menambahkan lingkaran yang menunjukkan azimuth di cakrawala. Astrolab banyak digunakan di seluruh dunia Muslim, terutama sebagai bantuan navigasi dan sebagai cara untuk menemukan Kiblat, arah Mekah. Matematikawan abad kedelapan Muhammad al-Fazari adalah orang pertama yang dianggap membangun astrolab di dunia Islam. Latar belakang matematika dibuat oleh astronom Muslim Albatenius dalam risalah Kitab az-Zij (sekitar 920 M), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Plato Tiburtinus (De Motu Stellarum). Astrolab paling awal yang masih hidup bertanggal 315 H (927–28 M). Dalam dunia Islam, astrolab digunakan untuk mencari waktu matahari terbit dan terbitnya bintang tetap, untuk membantu menjadwalkan sholat subuh (shalat). Pada abad ke-10, al-Sufi pertama kali menjelaskan lebih dari 1.000 penggunaan astrolab yang berbeda, di berbagai bidang seperti astronomi, astrologi, navigasi, survei, ketepatan waktu, doa, Shalat, Kiblat, dll.

Kompas

The earliest reference to a compass in the Muslim world occurs in a Persian talebook from 1232,[30][31] where a compass is used for navigation during a trip in the Red Sea or the Persian Gulf.[32] The fish-shaped iron leaf described indicates that this early Chinese design has spread outside of China.[33] The earliest Arabic reference to a compass, in the form of magnetic needle in a bowl of water, comes from a work by Baylak al-Qibjāqī, written in 1282 while in Cairo.[30][34] Al-Qibjāqī described a needle-and-bowl compass used for navigation on a voyage he took from Syria to Alexandria in 1242.[30] Since the author describes having witnessed the use of a compass on a ship trip some forty years earlier, some scholars are inclined to antedate its first appearance in the Arab world accordingly.[30] Al-Qibjāqī also reports that sailors in the Indian Ocean used iron fish instead of needles.[35]

Late in the 13th century, the Yemeni Sultan and astronomer al-Malik al-Ashraf described the use of the compass as a "Qibla indicator" to find the direction to Mecca.[36] In a treatise about astrolabes and sundials, al-Ashraf includes several paragraphs on the construction of a compass bowl (ṭāsa). He then uses the compass to determine the north point, the meridian (khaṭṭ niṣf al-nahār), and the Qibla. This is the first mention of a compass in a medieval Islamic scientific text and its earliest known use as a Qibla indicator, although al-Ashraf did not claim to be the first to use it for this purpose.[29][37]

In 1300, an Arabic treatise written by the Egyptian astronomer and muezzin Ibn Simʿūn describes a dry compass used for determining qibla. Like Peregrinus' compass, however, Ibn Simʿūn's compass did not feature a compass card.[29] In the 14th century, the Syrian astronomer and timekeeper Ibn al-Shatir (1304–1375) invented a timekeeping device incorporating both a universal sundial and a magnetic compass. He invented it for the purpose of finding the times of prayers.[38] Arab navigators also introduced the 32-point compass rose during this time.[39] In 1399, an Egyptian reports two different kinds of magnetic compass. One instrument is a “fish” made of willow wood or pumpkin, into which a magnetic needle is inserted and sealed with tar or wax to prevent the penetration of water. The other instrument is a dry compass.[35]

In the 15th century, the description given by Ibn Majid while aligning the compass with the pole star indicates that he was aware of magnetic declination. An explicit value for the declination is given by ʿIzz al-Dīn al-Wafāʾī (fl. 1450s in Cairo).[32]

Pre modern Arabic sources refer to the compass using the term ṭāsa (lit. "bowl") for the floating compass, or ālat al-qiblah ("qibla instrument") for a device used for orienting towards Mecca.[32]

Friedrich Hirth suggested that Arab and Persian traders, who learned about the polarity of the magnetic needle from the Chinese, applied the compass for navigation before the Chinese did.[40] However, Needham described this theory as "erroneous" and "it originates because of a mistraslation" of the term chia-ling found in Zhu Yu's book Pingchow Table Talks.[41]




No comments:

Post a Comment