Saturday 4 July 2015

Kelompok Sosial

Pengertian Kelompok Sosial

Kita mungkin tak sadar sejak lahir sampai sekarang kita menjadi anggota bermacam-macam kelompok. Terlihat bahwa kelompok sosial merupakan suatu gejala yang sangat penting dalam kehidupan kita, karena sebagian besar aktivitas berlangsung di dalamnya.
Dapat dikatakan bahwa sejak dilahirkan manusia mempunyai dua hasrat atau kepentingan pokok bagi kehidupannya, yaitu:

  • Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya di sekelilingnya (gregariusness)
  • Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alamnya
  • Keterikatan dan ketergantungan antar manusia dengan lainnya mendorong manusia untuk membentuk kelompok-kelompok masyarakat yang disebut kelompok sosial/sociak group

Pengertian Kelompok Sosial

  1. Paul B. Horton. Kelompok sosial berarti setiap kumpulan manusia secara fisik contohnya sekelompok, orang yang menunggu bus kota.
  2. Rolland B. Warren. Kelompok sosial meliputi jumlah orang yang berinteraksi dan memiliki pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya secara keseluruhan.
  3. Willy Huky. Kelompok sosial merupakan satu unit ang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi atau berkomunikasi.
  4. Mayor Polak. Kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling berhubungan dalam sebuah struktur.
  5. Robert K. Merton. Kelompok merupakan sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang tetap mapan.
  6. Mac Iver dan Charles H. Page. Kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan antarmanusia dalam himpunan ini bersifat saling memengaruhi dan dengan kesadaran untuk saling menolong.
Jadi kelompok sosial adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.


Syarat dan Ciri Kelompok Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, himpunan manusai baru dapat dikatakan sebagai kelompok sosial apabila memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan
  • Adanya hubungan timbal balik antar anggota atau yang lainnya.
  • Adanya faktor peringkat yang dimiliki bersama di antara mereka (kepentingan yang sama, tujuan sama, ideologi dan politik yang sama dan lain-lain)
  • Memilik struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama
  • Bersistem dan berproses
Robert K. Meton menyebutkan tiga kriteria suatu kelompok, yaitu:
  1. Memilik pola interaksi
  2. Pihak yang berinteraksi mendefiniskan dirinya sebagai anggota kelompok
  3. Pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh anggota orang lain sebagai anggota kelompok.
Catatan: ada kelompok sosial yang tidak teratur yaitu kerumunan dan publik. Kerumunan bila ada hal yang menarik perhatian bersama contonya, antrean karcis. Sedangkan publik juga memiliki amkna yang sama namun tidak berkumpul di satu tempat, interaksi tak langsung seperti pemirsa televisi yang menyaksikan kampanye presiden melalui televisi.

Tipe/Bentuk Kelompok Sosial

  • Klasifikasi Emile Durkheim
Durkheim membagi kelompok sosial menjadi dua tipe yaitu kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja. Yang diutamakan adalah persamaan perilaku dan sikap. Seluruh kegiatan warga masyarakat diikat oleh apa yang disebut "kesadaran kolektif", yaitu suatu kesadaran bersama yang mencakup seluruh kepercayaan dan perasaan kelompok, berada di luar warga dan bersifat memaksa. Hukum yang dominan adalah hukum pidana untuk mengembalikan kondisi tidak seimbang akibat perilaku menyimpang. Sanksi terhadap pelanggar bersifa represif (hukum pidana).
Solidaritas organik merupakan solidaritas yang terdapat dalam masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja, saling ketergantungan antar watga masyarakat tinggi. Ikatan bersama yang mempersatukan masyarakat ukan lagi kesadaran kolektif, melainkan kesepakatan yang terjalin di antara berbagai profesi. Hukum yang menonjol adalah hukum perdata. Sanksi terhadap pelanggaran bersifat restitutif (si pelanggar harus membayar ganti rugi kepada yang dirugikan untuk mengembalikan keseimbangan yang telah dilanggar).
  • Klasifikasi Ferdinant Tonnies
Kelompok dalam masyarakat dibedakan dalam gemeinschaft dan gesselscaft.
Gemeinscahft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi dan eksklusif. Contohnya ikatan agama, ikatan perkawinan, rumah tangga, bahasa, adat dan sebagainya.
Gesselscaft merupakan kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang kebetulan hadir tetapi masing-masing tetap madiri. Misalnya hubungan kerja, ikatan profesi dan sebagainya.
Dalam konteks Indonesia gemeinscaft dan gesselscaft dapat tercermin pada paguyuban dan patembayan.
Paguyuban merupakan kehidupan bersama yang bersifat alamiah, mempunyai ikatan batin yang kua dan kekal. Paguyuban dapat dibedakan ke dalam tipe-tipe, yaitu:
  1. Paguyuban karena persamaan ikatan darah atau keturunan (gemeinscaft by blood), seperti keluarga, kelompok kekerabatan dan sebagainya
  2. Paguyuban karena persamaan tempat tinggal (gemeinscaft by place) seperti rukun tetangga, rukun warga dan sebagainya.
  3. Paguyuban karena persamaan keahlian, pekerjaan, atau pandangan-pandagan yang sama (gemeinscaft by mind), seperti perkumpulan kebatinan, sekte dan sebagainya.
  • Klasifikasi CH Cooley dan Ellsworth Farris
Menurut CH. Cooley membagi kelompok dalam masyarakat menjadi kelompok primer. Kelompok primer ditandai dengan pergaulan dan kerjasama tatap muka yang inti, jumlahnya kecil, saling mengenal dan memiliki solidaritas yang kuat. Misalnya, keluarga, teman bermain masa kecil, rukun warga, kerabat dan komunitas orang dewasa.
Sedangkan menurut Ellsorth Farris di dalam masyarakat ada kelompok sekunder yang bersifat formal, tidak pribadi, berciri kelembagaan, pola hubungan bersifat kontraktual. Misalnya perkumpulan partai politik, koperasi dan sebagainya.

  • Klasifikasi W.G. Sumner
Menurut Sumner kelompok sosial dapat dibedakan menjadi dua yaitu in group dan out group. In group (kelompok dalam, kelompok kami) adalah suatu kelompok sosial di mana seseoran menjadi anggoanya. Di dalam kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan, kedamaian dan solidaritas kelompok (in group feeling).
Out group (kelompok luar, kelompok mereka) adalah suatu kelompok di mana seseorang tidak menjadi anggtanya. Dilihat dari sudut "kelompok kami", kelompok mereka biasanya diposisikan sebagai partner, pesaing, rival bahkan musuh. Keterlibatan seseorang dengan "kelompok mereka" sangatlah dangkal atau tidak ada sama sekali.
  • Klasifikasi Soerjono Soekanto
Menurut Soerjono Soekanto kelompok sosial dibedakan menjadi enam, yaitu besar kecilnya jumlah anggota, kepentingan wilayah, derajat organisasi, derajat interaksi sosial, kesadaran terhadap jenis yang sama, serta hubungan sosial.
  1. Berdasarkan besar kecilnya suatu anggota. Menurut George SImmel, bentuk terkecil kelompok sosial terdiri atas satu orang sebagai fokus yan dinamakan monad. Kemudian dikembangkan lagi menjadi dyad dan triad serta kelompok kecil lainnya. Simmel menelaah kelompok-kelompok yang leih besar yaitu kelompok yang anggotanya saling kenal. Contohnya keluarga, RT, RW dan desa. Berkembang pula menjadi kelompok sosial yang lebih luas seperti kota korporasi dan negara di mana anggotanya tidak memiliki hubungan yang erat
  2. Berdasarkan pada kepentingan dan wilayah. Suatu komunitas misalnya merupaka kelompok-kelompok kesatuan atas dasar wilayah dan tidak memiliki kepentingan khusus tertentu. Asosiasi justru dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu. Suatu kerumunan (epimeral group) misalnya merupakan kelompok yang hidup sebentar saja karena kepentingannya tidak berlangsung lama.
  3. Berdasarkan derajat organisasi. Kelompok sosial dapat berupa kelompok yang terorganisasi yang baik sekali seperti negara sampai dengan kelompok yang tak berorganisasi seperti kerumunan.
  4. Berdasarkan terhadap jenis yang sama. Kelompok dibagi dalam in group dan out group. Sikap in group pada umumnya didasarkan pada faktor simapti dan mempunyai perasaan dekat pada anggta kelompok, sedangkan sikap terhadap out group ditandai dengan antagonisme dan antipati. Perasaan dalam kelompok dan luar kelompok merupakan suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme. Catatan: etnosentrisme yaitu suatu sikap menilai unsur kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran kebudayaannya sendiri.
  5. Berdasarkan hubungan sosial dan tujuan. Kelompok sosial dibedakan menjadi kelompok primer dan sekunder.
  • Kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang saling mengenal anggotanya serta terdapat kerjasama yang bersikap pribadi
  • Kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, hubungan tidak harus saling kenal secara prbadi, kuran akrab dan tidak begitu langgeng. Contohnya, orang yang melakukan kontrak (jual beli). Hubungan ini rentan konflik jika satu pihak melanggar hak-haknya.
Dalam konteks Indonesia kelompok primer dan sekunder ini tercermin pada paguyuban dan patembayan
  • Klasifikasi Kingsley Davis 
 Bentuk-bentuk kerumunan adalah sebagai berikut
  • Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial
  • Kerumunan yang bersifat sementara
  • Lawless crowd

 Hubungan antar Kelompok dalam Masyarakat


  1. Dimensi Sejarah
Hubungan antar kelompok dalam dimensi sejarah diarahkan pada pemahaman tumbuh dan berkembangnya hubungan antara kelompok. Hal ini terkait dengan stratifikasi etnis, stratifikasi jenis kelamin dan stratifikasi usia.
Stratifikasi etnis menurut Noel terjadi apabila terdapat tiga syarat, yaitu etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Contohnya, kontak kelompok hitam dan kelompok putih masa apartheid. Hal ini terjadi karena etnosentrisme pada kelompok kulit putih, adanya persaingan di bidang ekonomi dan adanya kekuasaan yang lebih besar pada kelompok kulit putih.
Stratifikasi usia terkait dengan kekuasaan, ak istimewa dan prestise yang dimiliki individu sejak mulai beranjak dewasa hingga menjelang tua. Stratifikasi jenis kelamin terkait dengan industrialisasi, pembagian kerja pada masyarakat tradisional.
  1. Dimensi Sikap
Dalam hubungan antar kelompok sosial sering muncul prasangka (prejudice) dan stereotipe (stereotype).
Prasangka merupakan sikap nermusuhan yang ditujukan pada suatu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai ciri yang tidak menyenangkan.
Stereotipe adalah citra yang kaku mengenai kelompok ras atau budaya yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut. Stereotipe memiliki sifat negatif atau positif. Misalnya, perempuan memiliki sifat keibuan, penyayang dan lembut (stereotipe positif). Orang miskin memiliki sifat bodoh, kotor, dan tidak berbudaya (sterotipe negatif).
  1. Dimensi Institusi
Dimensi institusi dalam hubungan antar kelompok dapat berupa institusi politik maupun ekonomi. Maksudnya hubungan antar kelompok dapat bersifat birokratis saja tanpa hubungan  yang lebih personal. Contohnya, seorang petugas administrasi tidak perlu mengenal baik orang-orang yang dilayaninya, hubungan yang terjadi antar mereka tak lebih dari hubungan administrasi saja.
  1. Dimensi Gerak Sosial
Hubungan antar kelompok sering melibatkan gerakan sosial, baik yang diprakarsai oleh pihak yang menginginkan perubahan maupun pihak yang mempertahankan keadaan. Contohnya, gerakan perempuan menentang KDRT maupun gerakan perempuan konservatif yang mempertahankan peran perempuan sesuai tradisi. Selain dmensi di atas dalam hubungan antar kelompok terdapat dimensi perilaku dan dimensi perilaku kolektif. Dimensi perilaku adalah perilaku satu kelompok kepada kelompok lain, misalnya diskriminatif dan pemeliharaan jarak sosial. Selain itu, hubungan antar kelompok pun sering diwarnai peristiwa perilaku kolektif, misalnya demonstrasi, huru hara, pengrusakan atau bentrokan fisik.
Pola Hubungan antar kelompok:
Hubungan antar kelompok juga diwarnai oleh pola-pola tertentu yang khas. Terhadap kelompok ras, Banton mengemukaka beberapa kemungkinan pola hubungan antar kelompok, di antaranya: akulturasi, dominasi, paternalisme, pluralisme dan integrasi
  • Akulturasi. Akulturasi terjadi ketika kebudyaan kedua kelompok ras yang bertemu mulai berbaur dan berpadu.
  • Dominasi.Dominasi terjadi bila suatu kelompok ras menguasai kelompok ras yang lain. Dalam kaitannya dengan dominasi, Kornblum menyatakan bahwa terdapat empat macam kemungkinan yang terjadi dalam suatu hubungan antar kelompok, yaitu: (a) Genosida, yaitu pembunuhan secara sengaja dan sistematis terhadap kelompok tertentu; (b) Pengusiran; (c) Perbudakan; (d) Segregasi, yaitu pemisahan antar kelompok ras tertentu dengan ras lainnya; (e) asimilasi.
  • Paternalisme. Paternalisme adalah suatu bentuk dominasi kelompok ras pendatang atas ras kelompok pribumi. Kelompok pendatang lebih kuat. Dalam pola ini, Banton mem bedakan tiga macam masyarakat yaitu: (a) Masyarakat Metropolitan; (b) Masyarakat Kolonial; (c) Masyarakat pribumi yang dijajah.
  • Pluralisme. Pluralisme adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya persamaan hak politik dan hak perdata masyarakat. Pola hubungan ini lebih mencerminkan pola hubunan antar kelompok daripada integrasi. Menurut Furnivall, masyarakat majemuk adalah suatu kelompok berbeda tetapi tidak membaur. Contohnya, masyarakat Indonesia pada masa penjajahan Belanda terdapat tiga kelompok ras berdampingan dalam satuan politik tapi terpisah: Kelompok Eropa, Kelompok Timur, dan kelompok pribumi.
  • Integrasi. Integrasi adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan perhatian khusus pada perbedaaan ras tersebut.

No comments:

Post a Comment